Memahami Posisi Antara Aku, Kamu, dan Kita

Memahami Posisi Antara Aku, Kamu, dan Kita

MEDAN, BatakIndonesia.com — Dalam himpunan matematika, bisa kita katakan aku dan kamu adalah bagian dari kita. Namun lain matematika, lain pula di alam pertemanan nyata sehari-hari. Niat kita agar aku, kamu, dan kita adalah sebuah pribadi yang tumbuh baik seperti yang dicita-citakan.

Aku dan kamu, dua pribadi jika dalam pertemanan menjadi lebih memungkinkan dekat, sebab jika orang berteman sudah ada komitmen antara keduanya saling bersahabat. Terjadinya persahabat, bisa karena saudara, bisa juga tanpa pertalian saudara, hanya karena kebutuhan tertentu. Apa yang menjadi kebutuhanku, kamu bisa memberikannya dan sebaliknya, apa yang kamu perlukan bisa aku berikan. Hubungan sahabat ini sangat dirasakan terlebih seorang perantau. Sahabat lebih terasa penting katimbang saudara sedarah sendiri.

Mendukung tulisan ini, saya membuat referensi pengalaman pribadi dari anak sendiri. Agar memiliki akurasi datanya. Memilih sahabat, menurut anak-anak saya, lebih pada adanya kecocokan pertemanan karena satu angkatan sekolah/fakultas. Ini sangat langgeng, karena saling membutuhkan. Misalnya dalam hal tugas sekolah. Ada tugas bersama yang mereka bisa saling berbagi kemampuan menyelesaikannya. Kunci sukses persahabatan ini, pilihlah yang setingkat dengan kemampuanmu. Bila perlu lebih pintar. Jika lebih pintar, maka kepintarannya bisa menular kepada diri sendiri. Itulah manfaatnya.

Jangan melakukan aktivitas yang negatif, sebab jika teman punya kebiasaan negatif maka Anda juga akan ikut-ikut kebiasaan itu. Lazimnya seorang anak ikut-ikutan karena takut dikatakan tidak solider. Ketinggalan jaman, kampungan dan lainnya yang berkonotasi si anak tidak mampu mengikuti modernisasi masa kini atau jaman now. Ini solidaritas yang keliru, orangtua takkan setuju hal itu terjadi.

Usia remaja dan pemuda, sering suka melawan orangtua, apa yang disarankan orangtua selalu tidak dicerna dengan positif tetapi dilawan dulu tanpa matang dipikirkan. Jika terlanjur terpengaruh minum obat terlarang misalnya, barulah penyesalan datang kemudian. Jika demikian pula, kehancuranlah yang terjadi serta masa depan akan suram.

Topik ini menjadi menarik ketika memperhatikan anak-anakku empat orang yang sudah dewasa, Sando, Cindy, Fritska dan Christy. Sejak SMP sampai lulus di Perguruan Tinggi, tiap mereka punya sahabat di sekolah. Sando, memilih karena punya seni musik gitar dan membentuk grup band. Cindy, memilih teman karena grup belajar di sekolah. Fritska lebih pada minat sejenis, jurnalis, music band dan kegiatan seni lainnya. Apa saja diikuti, asal kegiatannya mengandung suatu lomba. Christy lebih pada grup belajar.

Hubungan persahabatan mereka sangat erat bahkan seperti saudara sendiri. Tukar buku, saling kunjung-kunjungan sambil kerjakan pekerjaan rumah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Itu berlangsung sampai lulus sekolah, bahkan setelah lulus pun jika ada kesempatan selalu mereka bertemu.

Orangtua akan tenang, tidak cemas atau was-was, terutama remaja putri, jika anak-anak sudah minta ijin menemui temannya, tentu dengan alasan ke mana dan jam berapa pulang. Tidak lagi selalu bertanya, dan ini semacam menanam kepercayaan bagi mereka. Mempercayainya sebuah harga yang mahal, ia merasa dewasa. Sekalipun kedewasaan itu tidak boleh lepas sebebas-bebasnya. Kita punya cara untuk menunjukkan rasa ingin tahu, jika terlambat pulang ke rumah.

Hasilnya, puji Tuhan, mereka sampai besar adalah anak yang bertumbuh taat pada ajaran orangtua, jiwanya tumbuh berkembang bisa bersahabat dengan sejawatnya dengan pemilihan sahabat yang pas dan semua tidak terpengaruh pada kenakalan remaja. Bisa sekolah dengan lulus S-1 dan bahkan Sando yang melanjutkan S-2 di IKJ dan Fritska akan melanjutkan kuliah di Manchester Unversity, Inggris.

Bagaimana dengan kita? Kita adalah himpunan seluruh keluarga, yang perlu dipelihara juga bagaimana membina komunikasi yang baik dan harmonis di antara seluruh keluarga. Bisa jadi, bilangan personalia tidak hanya pertalian darah langsung, tetapi dalam rumah tangga sering ada saudara. Bagaimana membina komunikasi sehari hari, ada baiknya menggunakan jasa medsos dengan membuat Group WA, di mana setiap orang baik yang sudah menikah dan yang belum dimasukkan sebagai anggota group. Setiap berita, peristiwa, pergumulan masing-masing bisa disampaikan melalui group ini. Karena kondisi jarak saat ini sangat terasa berat untuk bisa saling menjumpai setiap saat, mau tak mau solusi WA jadi jalan keluar.

Perlu kejujuran dan ketaatan dalam mengikuti apa saran, orangtua melalui medsos, dapat saja dianggap kita sudah tatap muka. Bila perlu, sekali-kali melakukan Video Call bila ada hal yang perlu didiskusikan lebih serius.

Kita dalam komunitas yang lebih luas, dapat saja dalam kaitannya dengan group Alumni, group bakat dan minat: olahraga, musik, profesi dan lainnya. Memilih anggota group juga pada intinya diperlukan pengenalan satu dengan lainnya agar saling asih, asah, dan asuh. (A-3). Hanya dengan cara itu, setiap individual bisa saling memberi dan menerima satu dengan lainnya. Simbiose mutualistis, akan terjadi, terlebih dalam group yang bergerak di sektor ekonomi. Lebih terasa, seluruh pertimbangan dilakukan dengan kalkulasi untung rugi. Jika untung, untung yang maksimum, dengan begitu maka pemilihan anggota pun menjadi penting sebab esdeem yang menjadi faktor dominan sebagai pemberi hubungan terkuat dalam berkonstribusi kepada hasil produksi.

Selamat mencoba, ini pengalaman kami dan bagaimana pengalaman Anda?

Jakarta, 9 Januari 2019. RLM Pasaribu. Medan-Jakarta, Lion Air, pkl. 19.00 WIB.

BACA:  Keterikatan vs Kebebasan pada Anak

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *