Menang melawan Virus Covid-19

BatakIndonesia.com — Saya adalah seorang pekerja professional di pekerjaan pengeboran minyak dan gas yang bekerja sejak 19 Mei 1997 di dalam dan luar negeri. Pekerjaan saya adalah sebagai supervisi dan konsultan dalam bidang keselamatan kerja terhadap bahaya gas beracun. Sejak 08 Juni 2003 saya bekerja menetap di salah satu perusahaan swasta milik Abu Dhabi – Uni Arab Emirat. Jadi terbiasa untuk menjaga keselamatan dalam kehidupan sehari-hari saya, termasuk menjaga agar tidak terpapar covid 19.

Setelah cuti selama sebulan di bulan Desember 2019, saya kembali ditugaskan bekerja di sebuah pulau buatan (artificial island) yaitu Al Ettouk Island, tiba di pulau dan mulai bekerja pada 19 Jan 2020. Pekerjaan berjalan dengan baik tanpa ada kendala maupun hambatan. Saya tidur sendiri dalam kamar dilengkapi dengan WIFI dan siaran TV berbayar, sudah tentu siaran TV nasional Indonesia tidak ada. Sebelum tidur saya selalu menonton berita TV CNN dan BBC setelah mata lelah main HP bermedia sosial.

Di awal Januari 2020 kehebohan virus covid 19 diberitakan di CNN dan BBC penyebaran virus dimulai dari Wuhan di China menyebar sampai Prancis, Inggris dan setiap hari diberitakan ada ngara lain sebagai tempat penyebaran yang baru. Hinga pada suatu hari, ada 3 orang pekerja di evakuasi pakai helicopter dari pulau tempat kami bekerja ke rumah sakit di kota Abu Dhabi pada malam hari.

Ke esokan harinya para pekerja saling bertanya apa penyakit ketiga orang yang dievakuasi tersebut? Karena masih menunggu laporan resmi dari pihak yang berwenang maka berkembanglah isu-isu yang tidak jelas kebenarannya. Dan kemudian di akhir bulan Maret berturut-turut dalam tiga hari Red Cresent Chopper (sama dengan helicopter palang merah di Indonesia) datang menjemput pekerja yang sakit. Para pekerja sudah mulai gusar karena belum ada pemberitahuan resmi dari yang berwenang tentang kondisi pekerja yang di evakuasi sebelumnya. Kemudian dalam satu hari ada tujuh orang dievakuasi, dan rasa khawatir para pekerja semakin memuncak. Sementara itu, tersebar pula isu bahwa di beberapa tempat kerja yang lain telah ditemukan pekerja yang terpapar covid 19 alias positip dan sudah di-lock down. Berita penutupan bandara Internasional Abu Dhabi pada bulan Maret 2020 pun turut menambah kegusaran para pekerja

Akhirnya secara rsmi diumumkan bahwa diantara tujuh orang pekerja yang divakuasi pada hari yang sama tersebut ada yang positip tertular Covid 19.

Situasi di pulau tempat kami bekerja menjadi heboh sebab tidak diberitahu siapa dan berapa orang yang dinyatakan positip covid dari ke tujuh orang tersebut. Mengingat kembali siapa teman bekerja, siapa pernah kontak dengan yang tujuh orang tersebut maka mulailah menjaga jarak antara yang satu dengan yang lain. Secara otomatis terjadilah pengelompokan antara sesama pekerja. Tempat pembersih tangan (hand sanitizer station) disebar sebanyak mungkin di lokasi kerja maupun di camp. Dan pekerja disarankan memakai hand sanitizer seperlunya untuk mencegah penularan. Masker N95 dibagikan kepada setiap orang. Masker N95 memang digunakan sebagai peralatan keselamatan kerja sehari-hari oleh pkerja tertentu yang berhubungan dengan material berbahaya (debu, uap, bauan menyengat) jadi setiap saat harus tersedia di lokasi kerja.

Bagaimana saya menyikapi situasi yang berkembang?

Saya bersyukur dipasilitasi tv di kamar, dengan menonton berita di CNN dan BBC saya memperoleh pengertian apa itu virus COVID-19. Dari berita yang saya ikuti saya menyimpulkan bahwa ancaman virus ini akan lama berada diantara kita karena diyakini ini adalah virus varian baru dan belum ada vaksinnya. Jika demikian maka semaksimal mungkin (walau pun sangat sulit) hindari jangan sampai terpapar. Jika sudah terpapar maka kita harus MELAWAN dengan sistim imun tubuh sampai ditemukan vaksinnya. Dengan pemahaman demikian maka saya harus SIAP untuk menghadapinya.

Bagaimana menghindari agar jangan terpapar?

SAYA mengikuti protokol pencegahan penularan covid yang telah diberikan oleh pemerintah dan instansi setempat. Sebagai tambahannya, saya mengatakan kepada diri sendiri,

“HAI  ADVEND! DI LUAR SANA SEMUA ORANG TELAH TERPAPAR COVID 19, JAGA DIRIMU!”.

Sebab dalam berita dikatakan, sangat banyak orang yang terpapar covid 19 tidak mengalami gejala apa-apa. Artinya, bisa jadi orang yang kelihatannya sehat itu adalah pembawa virus, (ingat belum 100 % penduduk di test PCR/SWAB).

Bagaimana seandainya nanti saya terpapar dan dinyatakan positip dari hasil test PCR/SWAB?

Pertama-tama saya meyakinkan diri, sebaik apa pun kita menjaga diri PASTI akan terpapar virus Covid 19 ini. Yang jadi pertanyaannya adalah KAPAN AKAN TERPAPAR? Sesudah atau sebelum vaksinnya ditemukan?

Kata kuncinya di situ, terpapar sesudah (dan tersedia) atau sebelum ada vaksinnya.

Kalau terpapar setelah vaksinnya ditemukan dan tersedia serta mudah di peroleh, tentu sudah tidak menghawatirkan lagi.

Yang akan menjadi masalah besar adalah jika kita terpapar pada saat vaksin belum tersedia di sekitar kita.

INILAH YANG HARUS KITA HADAPI.

Saya menghadapinya dengan mempersiapkan diri dengan baik, harus siap mental bahwa akan tiba waktunya kita akan terpapar dan harus sehat seelalu. Jangan melakukan sesuatu perbuatan yang mengurangi daya tahan tubuh misalnya tidur terlalu larut. Jadi harus cukup istrahat dan tidur, cukup makan dan perbanyak minum serta makan buah, Apa pun untuk menjaga tubuh sehat dan fit, harus dilakukan. Kemudian jangan biarkan ada beban perasaan, beban pikiran di dalam dirikita, pokoknya jangan biarkan berita tentang covid menjadi momok yang menakutkan. Saya membaca berita tentang covid 19 hanya memperhatikan jumlah dan persentase orang yang sembuh, tidak begitu memperhatikan yang meninggal akibat covid. Dari jumlah dan persentase yang sembuh ini saya menekankan dalam hati, SAYA AKAN MENAMBAH BILANGAN DAN PRSENTASE ORANG YANG SEMBUH INI NANTI KALAU TERPAPAR. Semua pemahaman saya ini selalu saya bicarakan dengan keluarga saya.

Akhirnya pada tgl 24 April 2020 kami pekerja dikeluarkan dari pulau dan dipulangkan ke kota Abu Dhabi bukan karena terpapar covid tapi karena pemerintah UEA memutuskan bahwa pekerjaan pengeboran dihentikan untuk semua operasi di pulau. Sebagai informasi, pulau tempat kemi bekerja juga adalah pulau tempat kilang memproduksi minyak, jadi untuk mengghindari terganggunya produksi minyak maka pengeboran harus dihentikan (menurut pemikiran saya).

Jadi tanggal 24 Apri 2020 saya kembali ke mess perusahaan, saya menemukan bahwa di mess kami sudah ada dua orang teman saya yang lebih dahulu dipulangkan karena alasan yang sama. Mess kami berupa flat 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, satu dapur dan satu ruang tamu. Dihuni 4 orang, 2 orang satu kamar. Dua teman yang lebih dahulu dipulangkan dan satu orang yang memang kerjanya di workshop telah melakukan swab test, dan hasinya mereka bertiga dinyatakan negatip. Berarti saya selaku yg baru datang menjadi orang terduga covid 19. Namun karena aku yakin akan keadaanku, kami di rumah hanya menjaga jarak satu sama lain, kursi dikasi jarak yang cukup, padahal biasanya kami ngobrol berdekatan di sekitar meja makan. Setiap 3 hari kami ke mal dekat mess untuk belanja bahan makanan sehari-hari, tentu kalau belanja kami lengkap menggunakan masker dan sarung tangan, pulang dari belanja langsung ganti pakaian dan mandi, bahkan receh uang kembalian kami balur dengan hand sanitizer sebagai bentuk pencegahan.

Baru 3 hari di mess, teman kami yg bekerja di workshop demam berat, kami tidak begitu khawatir karena sudah di test sebelumnya (kurang dari 1 minggu) hasilnya negatip. Sebagai rasa prsaudaraan, kami menyiapkan makanan untuknya dan ke apotik untuk membeli obat (note: salah seorang temanku adalah bekas perawat di AEA jadi kami diminta beli obat ke apotik/farmasi). Karena demamnya tidak turun dan kondisi semakin lemah, maka teman kami ini dibawa ke rumah sakit untuk berobat. Herannya, di rumah sakit dokter tidak mempertimbangkan bahwa teman kami ini menunjukkan gejala covid 19, hanya dengan pertanyaan keluhan si sakit, tanpa diperiksa, tulis resep, tebus ke apotik pulang. Bah!

Hari-hari berlalu, akhirnya teman kami semakin sehat.

Hampir dua minggu berada di mess, pada tanggal 5 Mei 2020, jam 12:00 saya dijadwalkan untuk melakukan test covid pertama dengan swab/PCR di salah satu rumah sakit terkenal di Abu Dhabi ini. Bersama dengan supir menggunakan mobil perusahaan saya berdua dengan teman yang lain (beda kamar, oran Palestina) pergi ke rumah sakit yang ditunjuk untuk melakukan test. Setelah test selesai dilakukan, dengan kendaraan yang sama (mobil dan supir perusahaan) kami kembali ke mess masing-masing tanpa mampir di suatu tempat.

Besoknya 6 Mei 2020, jam 10:10 pagi saya menerima panggilan telepon.

Halo! May I speak with Andvendes?

Yes, I am speaking!

Regarding your covid test yesterday, the result is POSITIVE, but don’t worry, stay calm, are you living in your room alone……. bla bla bla, do self isolation, separate room, separate bath room, etc.

Ok. Kataku menutup telepon.

Selesai bertelepon saya langsung kabari teman yang tiga orang satu flat dengan aku. Mereka kaget juga, kenanya dimana? Hampir dua minggu bersama di rumah tanpa ada keluhan. Kami langsung melaksanakan protokol penanganan dan pencegahan penularan covid 19 sesama kami. Teman sekamarku langsung pindah kamar ke sebelah, jadi mereka bertiga sekamar. Kemudian saya melapor ke supervisor di kantor bahwa saya positip covid, dan langsung disuruh isolasi diri.

Kamudian saya menelepon istri untuk mengabari…

Halo, ma lagi ngapain?

Biasalah kerja rutin pagi di rumah, gimana hasil test covidmu pa?

Iya ma, aku mau ngabari, hasilnya aku POSITIP COVID 19.

(Istri langsung terdiam tidak menjawab. Wajarlah sebagai seorang ibu merasa ada beban yang sangat besar untuk ditanggung, dan istri langsung ke kamar sementara telepon masih nyambung, saya membiarkan diam, hanya terdengar isak tangis sepertinya kesediham membuncah dari istriku yang kekasih, setelah beberapa saat aku berbicara lagi….)

Ma, jangan nangis, awas dilihat anak-anak, ntar kalau ditanya ntar mereka akan terpukul juga dan secara psikologis tidak baik bagi mereka.

Ga pa, aku sudah di kamar

Aku ga mau kalau anak-anak sampai tau ma

Gal ah pa, anak-anak mau ujian kenaikan kelas dan abang Ari mau ujian semester kuliahnya.

Iya ma, anak-anak jangan sampai tau. Ma juga jangan terlalu dipikirkan, aku tidak merasakan gejala seperti yang dibritakan. Berdoa saja agar aku bisa mengalahkan virus covid ini.

Iya pa.

Demikianlah aku mengabari istriku, tanpa ada basa-basi karena begitulah aku adanya. Kemudian aku mengabari adek dan ito ku via WA dalam grup 7 bersaudara

6 Mei 2020

Salam 7 bersaudara

Apa kabar semuanya.

Kemaren aku rapid test covid 19, hasilnya aku + (menggunakan istilah rapid test karena belum tau apa perbedaan rapid test dan PCR/Swab test)

Mohon doanya.

Ga perlu panik, aku tidak punya simptom, cuma batuk kecil.

Aku di kost an sejak tanggal 24 April, ga kemana-mana. Hanya ke swalayan sj belanja makanan, selalu pake masker dan sarung tangan.

Mohon doa agar aku punya anti bodi yg kuat melawan covid 19 ini.

Begitu aku mngabari adek-adekku, aku adalah anak sulung dari tujuh bersaudara.

Sesaat kemudian adik dan itoku semua memberikan dukungan dalam doa dan menyemangati aku agar kuat dan sembuh. Yang menarik perhatianku adalah adek-adekku semua mengatakan “KALAU RAPID TEST POSITIP BELUM TENTU COVID-19 POSITIP JUGA”. Salah satu itoku yang mengatakan begitu adalah pegawai ASN dinas kesehatan di SUMUT.

Akhirnya saya cari secara daring apa itu RAPID test? Dan setelah saya tau, benar saja bahwa saya bahwa saya telah menggunakan istilah yang istilah yang salah yaitu Rapid Test di WAG 7bersaudara seharusnya PCR/Swab test, dan hasilnya Positip Covid 19. Setelah memehami perbedaannya aku tidak mengkoreksi istilah yang saya pakai yaitu Repid Test itu. Aku berpikir, ada baiknya juga ketidak tahuanku itu bagi adek-adekku sehingga mereka tidak terlalu terbeban, jika seandainya aku kabari positip dengan PCR/Swab test maka perasaan batin mereka akan berbeda.

Timbul dalam pikiranku untuk minta didoakan oleh pendeta, kemudian saya mengirim pesan WA ke pendeta kami:

Horas amang.

Kemaren saya rapid test covid 19. Hari ini hasilnya +.

Mohon dibawakan doa syafaat pribadi amang agar sistim imun dalam tubuh saya bisa melawan covid 19 ini.

Mauliate amang.

WA saya dibalas dan direspon dengan doa. Amin.

Sebagai pendeta resort tentulah amang pendeta akan selalu mendoakan jemaatnya baik dalam doa pribadi maupun doa dari atas mimbar. Hingga pada suatu hari Minggu, namaku disebut di dalam doa dari mimbar saat ibadah online. Jadilah kabar aku sakit menyebar kepada jemaat gereja kami dan tentunya banyak pertanyaan datang kepada istriku. Terima kasih pa pendeta telah mendoakan aku, kataku.

Sejak memperoleh hasil positip covid 19, aku mengisolasi diri, hanya diam di kamar. Teman-teman juga mengisolasi diri di kamarnya, hanya seperlunya ke dapur atau ruang tamu. Beruntung punya teman yang sangat baik, kami sudah bekerja bersama sejak dari Indonesia selama 20 tahun lebih, mereka memasak makananku, membantu aku membeli keperluanku. Setiap 3 hari membeli buah jeruk peras dan pisang yang katanya sebagai sumber asupan vitamin C secara alami, untukku.

Aku keluar kamar hanya ambil makanan yang telah tersedia setelah selesai dimasak.

“Sudah! Diam saja di kamar, pokoknya terima beres” begitu kata temanku karena aku datang mau membantu mereka menyiapkan masakan.

Terima kasih Tuhan, Engkau memberikan teman yang peduli.

Beruntung kamar kami menghadap matahari pada pagi hari, jadi dengan membuka jendela lebar-lebar di pagi hari maka sinar matahari dengan leluasa menyinari dan memberikan vitamin D tanpa batas kepadaku. Aku pun mulai berjemur pagi hari di kamarku, sebenarnya pada musim panas seperti saat ini, ogah mau berjemur, walau pun masih pagi, panasnya ga karuan, tapi untuk melawan si covid dalam tubuhku, maka bantuan sinar matahari kuperlukan, tidak memperdulikan panasnya. Setiap hari aku berjemur dari jam 7 pagi sampai dengan jam 10, sambil main medsos, baca berita online dan juga baca buku. Begitulah kegiatan pagi hari selepas minum jus jeruk satu gelas dan satu buah pisang.

Suatu hari saat berjemur, aku dimintai istri berfoto saat berjemur, aku langsung foto dan kukirim baik yang close up maupun yang full. Dalam anggapanku istri tersayang pasti ingin menlihat wajahku, untuk menyelidiki kesegarannya. Aku merasa segar, maka untuk meyakinkan istriku kukirimlah berbagai foto dari hari ke hari, sebab dengan demikian istriku akan tertolong untuk menjaga hatinya agar tenang tidak terlampau terbeban.

Dua dari foto-fotoku saat berjemur pagi ku posting di laman FB-ku dengan judul:

“COVID – 19 Beta martumbuk” boleh lihat postingan tersebut dengan mengklik tautan ini, https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214943580177608&id=1671523499

Beragam komentar yang diberikan karena teman-teman FB ku tidak tau apa sebenarnya yang terjadi padaku, dan foto yang diposting juga kelihatan sehat dan fit. Biarlah sahabat FB-ku merespon seenaknya kuanggap saja menguatkan aku.

Setalah beberapa hari aku mengisolasi diri, temanku yang baru sembuh dari demam pindah ke flat yang lain sehingga dikamar mereka hanya ada dua orang. Setelah berjalan dua minggu aku mengisolasi diri, temanku bertanya kenapa tidak minta test kedua? Aku menjawab…..

Untuk apa aku harus buru-buru melakukan test kedua?

Ya untuk mengetahui bahwa kamu sudah sembuh, begitu kata temanku.

Aku ga mau buru-buru ingin tau kalau aku sudah sembuh, yang ingin kulakuan adalah anti bodi tubuhku benar-benar melawan covid ini sampai tuntas, sebab aku tidak mengalami simptomnya. Lagian pekerjaan masih belum dimulai. Begitu aku menjawab temanku menunjukkan bahwa aku sangat tenang secara mental kuat.

Ternyata dua hari kemudian dua orang temanku disuruh test covid lagi, dan hasilnya negatip. Dua hari kemudian kedua orang itu disuruh lagi test covid 19 lagi, (dalam pikiranku, sepertinya pekerjaan sudah dimulai lagi, sebab untuk berangkat kerja lagi harus punya sertifikat bebas covid 19 dengan hasil dua kali negatip) ternyata hasilnya satu orang ngatip dan satu orang lagi hasilnya positip. Bingung juga, terpapar darimana, apakah dari aku? Setelah 2 minggu? Kan 2 hari lalu hasil testnya ngatip? Ga taulah……

Dengan hasil tersebut, teman yang hasilnya negatip pindah flat dan gabung ke teman yang sudah pindah duluan beberapa hari lalu. Jadiah kami dua orang positip covid dalam satu flat tapi beda kamar, beda kamar mandi. Sama-sama berjemur pagi hari, makan, nyuci pakaian gantian (makanan masih tetap dimasakin teman yang dua orang masih negatip). Kalau aku melakukan aktifitas nyuci, makan atau apa saja, maka teman yang satunya diam di kamar, demikian sebaliknya. Situasi seperti ini saya pribadi tetap enjoy saja melakukan aktifitas, mengetik buku koor, bahkan menonton kembali film serial Game Of Thrones, serial Into Bad Lands, Serial Sopranos untuk mengisi waktu di dalam kamar. Sementara teman satu lagi yang positip berbeda perilakunya, tampak berusaha menenangkan diri seperti yang kulakukan. Setelah tiga hari dia dinyatakan positip covid-19, dia bertanya,

“Vend, kamu kabari ke istrimu?

Ku jawab, “Iya, sesaat aku dikabari positip, aku langsung kabari”.

Katanya lagi, “Aku belum mengabari istriku.”

Benar saja, temanku yang hasil test dua kali negatip itu disuruh berangkat kerja, tapi bukan karena pekerjaan telah normal kembali. Dia disuruh menggantikan teman yang sedang ada di lokasi untuk keperluan test covid mandatory (wajib) permintaan dari pemerintah UEA kepada semua perusahaan khsusnya yang bekerja di ladang minyak.

Sejak awal kami dibebastugaskan dari lokasi kerja, info yang beredar bahwa operasi pekerjaan akan dimulai kembali pada pertengahan Juni 2020. Maka, pada hari lebaran kedua aku menghubungi supervisor kami meminta agar dijadwalkan test kedua covid 19. Penjadwalan telah dilakukan, test kedua pada 30 Mei 2020 di rumah sakit yang sama saat melakukan test pertama dan hasilnya aku terima via SMS, begini isinya

Sun, 5/31/2020 00:01 Etisnet

MEDICLINIC : We would like to inform you that your COVID-19 test result is negative

Please contact your physician if you have any questions. “Stay home, Stay safe.”

 

BACA:  Panut

AMIN PUJI TUHAN….

Hari Minggu pagi setelah ibadah aku menelpon istri tercinta…

Halo ma sudah selesai ibadah?

Sudah pi.

Ma, hasil test sudah negatip, nanti test lagi dua hari kemudian.

Aduh, terharu aku pi. (sambil nangis kali). Syukurlah pi sudah sehat.

Kemudian aku kabari adek-adekku di WAG 7bersaudara:

Kemaren aku test PCR covid 19 yang ke-1 (salah ketik harusnya kedua). Pagi ini aku dinyatakan negatip covid 19, terpujilah Tuhan yang memberikan aku kesembuhan. Terima kasih atas doa-doa yang dipanjatkan untuk kesembuhanku. Besok masih test lagi, harus 2x negative br dinyatakan benar-benar sembuh. Tuhan memberkati kita semua. Amin (Screen shot SMS pemberitahuan dilampirkan di WAG)

Puji Tuhan, aku sembuh!!!

Dua hari kemudian test covid lagi, dan pemeberitahuan hasil test melalui sms

Tue, 6/2/2020 22:01 Etisnet, dengan isi yang sama pada tanggal 31 Mei

Allah maha besar, terpujilah Tuhan, dengan hasil dua kali negatip maka saya dinyatakan benar-benar sembuh dari covid 19. Kemudian hasil kedua ini juga saya kabari ke istri via telepon dan kepada adek-adek via WAG.

Dan tidak lupa juga aku mengabari pendeta kami yang mendoakan aku bahwa saya sudah sembuh dari covid 19. Terpujilah Tuhan.

Waduh ternyata sudah sampai 7 halaman kisah ini kutuliskan, padahal aku sebisa mungkin membatasi apa yang harus aku ceritakan. Sampai disi dulu lah ya.

Menurutku COVID 19 hanyalah virus sperti flu, yang bisa dilawan oleh sistim immune dalam tubuh. Jadi ketenangan diri, mental mau sembuh harus ditekadkan, berpikiran positip, cukup istrahat dan tidur teratur. Makan teratur, jus jeruk pagi hari dan buah pisang sebagai makanan pembuka, jauhkan pikiran dari memikirkan covid itu sendiri, Tuhan telah memberikan sistim immune dalam tubuh untuk melawan asal kita sehat jasmani dan rohani maka sistim immune tersebut akan mengalahkan covid 19 ini. Oh iya, usahakan minum air putih dari waktu ke waktu untuk menjaga kerongkongan basah, jauh lebih baik minum satu gelas air putih sedikit-sedikit dalam satu jam dari pada minum langsung satu gelas tapi membiarkan kerongkongan kering dalam satu jam berikutnya. Jika kerongkongan kering, maka akan terasa gatal, jika gatal maka akan terbatuk bahkan akan menyebabkan nyeri, ini bisa menjadi sumber penyakit dalam sistim pernafasan, HINDARI jangan sampai terjadi. Satu hal lagi, mungkin perlu dipertimbangkan, saya selalu menggunakan minyak angin fresh care untuk melegakan pernafasan setelah dinyatakan positip covid 19

PERCAYALAH, TUHAN MENYEDIAKAN SISTIM IMUN DALAM TUBUH KITA UNTUK MELAWAN BERBAGAI MACAM VIRUS, MAKA RAWATLAH SISTIM IMUN DALAM DUBUHMU DENGAN BAIK.

 

BACA:  Revolusi Industri 4.0

12 Juni 2020, dari Abu Dhabi

Salam sehat, masih dari dalam kamarku

Advendes Pasaribu. Tuhan memberkati.

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *