Meniru, Bolehkah?

Meniru, Bolehkah?

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Laman WAG Warnasari, sarana komunikasi bagi semua warga FBBI. Minggu pagi ini, 9 Agustus 2020, senior Thomson Napitupulu dari DPD FBBI Propinsi Bali mengunggah bagaimana warga dan negara China meniru teknologi Amerika Serikat (AS) melalui anak muda sekolah di perusahaan AS dan pesawaat Siluman AS ditembak di atas wilayah China lalu ditiru.

Meniru ini menjadi penting kita bahas agar tidak lepas dari konteksnya. Meniru sama dengan menjiplak. Persis menjiplak, bentuk dan teknologinya hanya dibedakan dengan mereknya. Itu namanya menjiplak alias meniru. Pertanyaannya, bolehkah?

Jika bicara praktek, secara hukum meniru itu dilarang. Orang lain susah-susah menemukan sebuah model barang dan mengeluarkan biaya survey atau penelitian produk baru, eh ditiru begitu saja dan mencuri pangsa pasar. Karena ia diproduksi sama, dengan tanpa biaya survey yang mahal-mahal. Oleh karena itu, di Indonesia bahkan dunia, dibuat lembaga “hak paten”. Silahkan daftarkan produk Anda, agar menjadi tidak bisa ditiru orang lain.

Mari kita tilik tiru-meniru di bidang lain. Bidang Akademik. Meniru itu disebut menjiplak atau plagiat. Tentu plagiat dilarang. Dalam arti, menjiplak model, mulai judul, bahasa, variabel, alat analisis, dan kesimpulan, yang dibedakan hanya locusnya. Fatal akibatnya plagiat seperti itu. Jika diketahui maka gelar akademiknya dicopot, alias percuma waktu dan biaya belajar serta malunya itu.

Bidang Ekonomi. Meniru itu sering terjadi. Tas, sepatu, baju, apapun bahkan modelnya dijiplak sama. Mereka ini hanya menumpang di popularitas tanpa capek atau mengeluarkan biaya promosi. Ini pun jika didapati, dapat digugat di pengadilan dengan ganti rugi yang tidak sedikit. Malu? Hampir tak ada rasa malu bagi pelaku ekonomi seperti ini.

Bidang Budaya. Inipun banyak meniru. Gaya rambut artis, pakaian Cut Bray pada jamannya, model dan gaya hidup orang Barat atau negara serta artis pujaannya ditiru. Terjadi apa yang kita sebut “meniru”.

Kalau dilarang, lalu apa yang dibenarkan? Boleh meniru, namun harus wajib tidak persis, wajib pula ada faktor yang baru, pengembangan yang baru, sesuai indikator sosial di mana kita berada. Aplikatif dan diterima di tengah masyarakat.

Bidang akademi. Jika kita memiliki judul skripsi, tulisan atau desertasi sekalipun, dilarang menjiplak. Oleh karena penelitin berbeda lokasi, maka variabel harus ditambah, dikurangi sesuai faktor minat penulis yang diduga berpengaruh. Hasil penelitian dengan topik serupa harus dituangkan, di mana kesamaan dan perbedaan dengan tulisan kita. Grand Theory pun boleh menggunakan teori penulis terdahulu, namun teori yang sama yang menjelaskan variabel yang baru pun harus kita temukan sebagai basis kajian teori. Agar kesimpulan yang kita ambil punya kerangka teori.

Bidang ekonomi, prinsipnya sama. Sebuah perusahaan, harus memiliki bidang pengembangan, product development. Ini kunci sukses sebuah perusahaan. Mereka wajib meneliti, garis produk, apakah item produk pada posisi growth, puncak atau decline. Setiap posisi, berbeda dalam penyumbangan aliran uang kas ke perusahaan. Setiap marginnya positif dan semakin besar maka model produk itu perlu dipertahankan. Berarti masih diminati di tengah persaingan produk sejenis. Hati-hati, jika sudah decine, menurun, pasti konstribusi margin negative alias merugi. Di sinillah perlu pengembangan produk, mungkin bentuk, warna, komposisi harga atau perlu strategi pemasaran yang baru dan lain sebagainya mutlak dilaksanakan oleh sebuah perusahaan yang progresif.

Bidang budaya. Ini terkait selera konsumen. Generasi muda sangat sensitif soal meniru gaya hidup (life style) ini. Terlihat dari lagu-lagu, selalu condong ke lagu yang poluler diminati banyak orang. Lalu, pencipta meniru karena konsumen ke arah Pop, rock, dan lainnya sehingga ditinggalkan jenis keroncong, andung-andung Batak, dan lainnya. Selama saya mengikuti proses penciptaan lagu, senior kita bilang, “bisa meniru, tapi tidak boleh 10%”. Betapa dasyatnya dorongan meniru hanya untuk eksistensi sebuah life style, atau hidup dan kehidupan.

Tulisan pendek ini saya tutup dengan pandangan pribadi, dengan melihat dunia permodelan ini di segala bidang, maka kesimpulannya adalah meniru itu sebuah keniscayaan. Artinya tidak dapat dibendung. Sebuah hasrat meniru ada pada diri setiap orang. Tempatkanlah meniru itu pada tempat yang dibenarkan oleh hukum. Jangan tabrak saja, menjiplak, namun dirimu wajib mengembangkan. Lingkungan yang berbeda dengan sebuah teori dibentuk, umumnya di negara Eropa.

Saya pernah mengikuti mata pelajaran “Bangunan Teori”, di mana teori Barat tidak boleh begitu saja diaplikasikan di Indonesia. Pertama, ciptakanlah teori baru dengan meneliti variabel atau indikator sosial yang baru di tempat Anda berada. Itulah teori yang sempurna. Beberapa dekade ke depan, mugkin teori itu harus diperbaharui dengan berubahnya indikator sosial.

Kedua, dalam perubahan life style di segala bidang, perlu kita bertahan pada basis budaya yang kita anggap murni, berterima dan baik untuk kebersamaan. Misalnya Dalihan Natolu, somba marhula, elek marboru, manat mardongan tubu, ditambah dengan hormat martetangga (sihal-sihal). Nilai-nilai bagi orang Batak perlu digali dan dikenali terus-menerus dan diterapkan dalam kehidupan yang banyak meniru ini. Sebab, Dalihan Natolu murni budaya orang Batak dan tidak dimiliki oleh bangsa lain di bumi ini.

Selamat menyimak dan Salam sehat.
Jakarta, Minggu, 9 Agustus 2020, pkl. 07.30 WIB.
Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI)

BACA:  Marsialapari (Gotong-Royong), Tradisi yang Tergerus Zaman?

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *