Menyikapi Kematian Karena Wabah

Menyikapi Kematian Karena Wabah

Oleh: Drs Tumpal Siagian (*)

OPINI

Wabah dan pandemi datang silih berganti di sepanjang sejarah hidup manusia. Karenanya, wabah dan pandemi acapkali dramatis, disruptif yang menimbulkan goncangan besar. Hal ini jelas terlihat dalam beberapa kejadian, episode dan skema penanganan terasa gagap, panik dan mencekam. Meski demikian rasa solidaritas muncul karena adanya cinta kasih dan hidup bersama dengan saling meringankan dan melenyapkan derita.

Dalam kaitan ini kita harus sadar jika wabah penyakit merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Sebelum pandemi Covid-19 dunia sudah berulangkali dunia diserang wabah. Diantaranya yang paling awal adalah wabah Cacar, Sebelum Masehi (SM), kemudian Campak pada Abad ke-7 SM. Antara tahun 165 dan 180 Masehi merebak wabah Antonin, kemudian tahun 541 Masehi wabah Justinian, dan tahun 1492 adalah Columbia Exchange yang diduga dibawa Chistopher Colombus ke benua Amerika nyaris memusnahkan penduduk lokal. Kemudian Black Death tahun 1340-1771 dan wabah Colera tahun 1817-1824.

Awal abad ke-20 ada pandemi Flu Spanyol yang mewabah tahun 1918-1919 dan menyebabkan 500 juta orang terinfeksi atau sepertiga penduduk dunia saat itu terjangkit. Rentetan wabah berikutnya HIV/AIDS tahun1981, Flu Babi (H1N1) tahun 2009.

 Covid -19 pun demikian, begitu cepat telah mengubah dunia dalam sekejap. Tidak hanya membuat jutaan manusia merenggang nyawa dalam kesia-siaan, tetapi juga membawa rentetan masalah lain yang mengikutinya. Lahirnya istilah seperti social distancing, physical distancing, lock-down, stay at home, work from home, PSBB, adalah sebagian diksi response di masyarakat.

Terkait jumlah korban wabah Covid-1 baik dalam skala Nasional maupun Global terus bertambah jutaan, sebuah angka yang tidak bisa dianggap kecil, tidak terlepas dari kegetiran, dan kenestapaan. Tentunya korban meninggal atau kematian selalu menyisakan kesedihan dan penderitaan bagi keluarga yang ditinggalkan. Penyakit mungkin terjadi sebagai teguran atau penghukuman Allah, namun bila itu terjadi maka itu memiliki tujuan pendisplinan supaya manusia mendekat dan bertobat, metanoia berbalik arah kepadaNya untuk meninggikan, mengagungkan serta memuliakan Allah.

BACA:  FBBI dan ormas-ormas Batak Lainnya Serukan Penyelesaikan Konflik di KDT dengan Win-Win Solution

Dalam konteks Mesianis, mendekat kepada Allah dan bertobat adalah  dua kata penting untuk dapat menghirup udara baru. Sebab dalam sejarah umat manusia dari abad baheula sampai abad modern,”melupakan” dan” membelakangi” Tuhan acapkali berulang.

Agama mengajarkan, kematian tidak memandang usia, muda tua, sakit sehat, kaya miskin. Bila waktu Tuhan telah tiba maka setiap orang akan dipanggil sesuai agenda Tuhan. Tidak bisa ditawar apalagi di nego. Dengan demikian tidaklah bijak bila kita memandang kematian karena wabah-penyakit sebagai orang yang dihukum Allah. Waktu Tuhan, pastilah yang terbaik. Walau kadang tidak mudah dimengerti.

Karena itu, ada baiknya kita hati-hati dengan berbagai tafsiran yang ada, apalagi tanpa pendekatan literal. Sebab dalam Perjanjian Baru, Yesus menegaskan  kepada orang buta itu bahwa penyakit juga untuk menyatakan pekerjaan Tuhan dinyatakan dalam dirinya (Yoh.9;1-3). “Alai naeng patar angka ulaon ni Debata di Ibana” ( Yoh.9: 3b).

 

Tanpa Acara Adat

Selain itu, kematian akibat wabah penyakit memperlihatkan,betapa sains dan teknologi khususnya medis, belum sepenuhnya mampu mengatasinya. Secara sosiologis Covid-19 mengantarkan manusia pada kehidupan/ habitus baru yang tak terduga: kematian tanpa prosesi/acara adat.  Kita tidak punya pilihan selain mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah  terhadap orang meninggal : Sakramen kematian hanya dilayani pemuka agama/ Hamba Tuhan, acara adat ditiadakan. Kita pun harus rela menghadapi keadaan ini seturut kaidah keilmuan (kedokteran) yang berlaku. Kebesaran jiwa bisa memaklumi apa yang terjadi meski yang meninggal bukan terinfeksi Covid-19.

Namun, agaknya, ada satu hal yang luput dari perhatian bahwa Agama utamanya ke-Kristenan pada hakekatnya tidak anti adat-istiadat, tetapi semuanya itu dilakukan untuk “menyenangkan” hati Tuhan. Perlu kemampuan mendalam membaca yang tersirat dengan memurnikan ajaranNya yaitu kita harus   mengutamakan Tuhan daripada mementingkan adat-istiadat. Adagium tua yang mengatakan,” lebih baik disebut tidak tahu agama daripada tidak tahu adat”.

Mungkin terdengar berlebihan, bisa dipahami tetapi tidak berarti menyetujuinya. Pandemi Covid-19 menuntun kita untuk menjalankan prosesi adat lebih sederhana. Bagian- bagian yang bertele-tele agar kedepan disederhanakan. Menyikapi peyederhanaan seolah sederhana tetapi sesungguhnya sulit diluruskan pelaksanaannya di akar rumput.

BACA:  Alkitab Berusia 1.000 Tahun, Ada Gambar Yesus

Hikmah lainnya yang patut disikapi atas kematian karena wabah penyakit adalah setiap terjadi wabah, setiap kali itu pula terjadi modifikasi adat/tradisi dan pembaruan agama. Harus diakui tidaklah gampang bagi seseorang untuk tiba pada penyadaran Allah ditinggikan dan diagungkan melebihi adat-istiadat atau tradisi; dengan kerelaan Tuhan makin bertambah-tambah dan diri sendiri semakin berkurang-kurang. Butuh kesiapan mental spiritual untuk menghadapinya, memerlukan kejernihan berpikir.

Akankah akan ada redefenisi, bagaimana beradat dalam upaya penguatan spiritual dalam pengenalan akan Tuhan?. Pertanyaan yang kemudian mengemuka,bagaimana kesiapan kita memasuki new normal atau tatanan normal baru ditengah pandemi Covid-19, yaitu memberlakukan protokol kesehatan pada prosesi adat orang yang meninggal?

 

Adaptasi Kebiasaan Baru

New Normal dibahasa Indonesiakan menjadi “Normal Baru”, yang bisa dikatakan sebagai ujian bagi manusia sebagai spesies unggul untuk tetap “adaptif” dalam menghadapi tantangan masif yang bersifat global. Presiden Jokowi menyebutkan normal baru adalah tatanan hidup baru yang didiktekan oleh era pandemi Covid-19, yaitu melakukan protokol kesehatan yang ketat ketika beraktivitas.

Sekarang,apa yang perlu direspons masyarakat terhadap perubahan itu? Dalam konteks perubahan, sebenarnya manusia dihadapkan pada perubahan demi perubahan yang membawa pada keadaan, kondisi, atau tatanan baru. Itu akan mengubah perspektif kita, dan menanamkan dalam pikiran kita “adaptasi kebiasaan baru” dalam banyak hal.

Pada saat bersamaan kita melihat kohesi sosial dimasyarakat ada kerinduan  tetap “survive” memberikan ruang di komunitas dengan berpaling kebelakang memulihkan prosesi adat/acara adat seperti sedia kala. Mencari suasana keriangan,keluar dari kepengapan hidup akibat Covid-19 merupakan mekanisme katarsis (pembersihan dan penyucian diri) demi mengisi kekosongan makna hidup beradat yang sempat terhenti. Sifat seperti itu menjadi bagian padu dari kedirian manusia yang kerap menimpakan kesalahan atau mencari kambing hitam dan menimpakan kesalahan itu pada wabah Covid-19.

Banyak kalangan memperkirakan, jika pandemi Covid-19 ini berakhir, terbesit harapan akan semua kembali kepada kehidupan lama. Adat sebagai warisan nenek moyang harus terus dilestarikan, dan respons publik bersepakat, sepanjang itu tidak bertentangan dengan Agama, perburuan kebahagiaan dengan tradisi tidak akan pernah berhenti. Hanya dengan hidup beradat dan cinta kasih menghadirkan kemenangan dan kebahagiaan persaudaraan sejati.

BACA:  TOEMA...

Naluri dasar manusia untuk bersosialisasi dan bertahan hidup tidak bisa diisolasi selamanya. Maka, sebelum vaksin penangkal Covid-19 di temukan, jalan tengahnya adalah hidup dengan kesadaran adaptasi kebiasaan baru. Namun dalam pelaksanaan skema  kenormalan Baru akan banyak menghadapi kendala teknis di lapangan. Bisa muncul berbagai pandangan menyikapinya, karena acara adat tak mungkin membatasi jaga jarak minimal satu meter. Yang kita hadapi adalah masalah bersama, bukan orang per-orang lalu merambah ke pembatasan lain, jaga kebersihan/ sering cuci tangan dan menggunakan masker.

Nah, apakah kita siap penerapan prosedure New Normal seperti itu?. Disiplin menjadi kunci. Atau kita lebih baik menunggu sampai wabah Covid-19 ini berakhir? Dalam pemahaman iman Kristen, kita tetap berdoa, kalau boleh wabah Covid ini cepatlah berlalu, tetapi kehendakMu jadilah! (Jakarta, 01 Juni 2020)

*  Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

Editor: Danny S

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *