Menyoal Politik Ekonomi di Kedai Kopi

Menyoal Politik Ekonomi di Kedai Kopi

Oleh: Drs Tumpal Siagian (*)

OPINI

Pandemi Covid-19 belum jelas kapan berakhirnya.  Sementara ditengah situasi ini, kita memasuki Tahun Baru 2021, dan mencari jawaban atas berbagai persoalan yang mendera.  Bayang-bayang pandemi 2021 mendorong publik tahun ini berbagi kebaikan, inspirasi, pengetahuan, dan lelucon lewat media sosial, seperti WatsApp, FB, Twitter dan Instagram.

Dari topik-topik yang sering dibahas adalah tentang politik dan ekonomi.  Cuitan ini mendapat interaksi dari warganet. Ini salah satu cuitan terpopuler dari tahun 2020, berlanjut hingga tahun 2021. Masyarakat mencoba memahami issue tersebut dan menyoal politik dan ekonomi hingga di kedai kopi.  Secangkir kopi bisa menjadi teman berkisah tentang apa saja atau dengan siapa saja, mulai dari obrolan ringan hingga berat .

Kedai kopi memberikan jawaban paling pas, agar bisa dinikmati secara lebih bebas dan gembira. Tetapi semua tetap dalam kerangka pertemanan paguyuban yang sudah terbangun sejak lama.  Ternyata, di tengah pandemi Covid-19 masyarakat masih menunjukkan kepercayaan mereka kepada demokrasi.  Puluhan juta pemilih pada 9 Desember 2020 mendatangi tempat pemungutan suara pemilihan kepala daerah.

Adalah Marcus Mietzner yang turut menerawang masa depan perpolitikan negeri ini, dalam bukunya “Money, Power, and Ideology” (2016). Secara formal-prosedural perpolitikan kita (demokrasi Pancasila) memang sangat tergantung pada partai politik. Sebab dalam proses kontestasi elektoral, partai-partai berperan sebagai makelar jual beli suara, antara pemilik suara dengan calon kepala daerah. Berawal dari praktik makelar politik, menjalar ke oligarkisme, korupsi, dan radikalisasi agama menjadi bahasan di kedai kopi, yang senantiasa gegap-gempita obrolan ngalor-ngidul setiap Pilkada Serentak digelar.

Politik Ekonomi

Manusia selalu berpolitik, kata Plato, bahkan keputusannya tidak berpolitik pun sesungguhnya adalah tindakan politik. Plato dalam “Republika” mengatakan sebagai  “zoon politicion” manusia punya naluri’. Setiap manusia punya naluri bersiasat inilah defenisi dasar yang patut dipahami. Pertanyaannya, politik yang bagaimana yang bisa dilakukan dalam menunaikan titah Allah?

Tentu saja politik yang menjungjung kemanusiaan, bahkan dalam konteks yang fundamental politik yang menebarkan kasih sayang dan rahmat. Dalam bahasa agama disebut ‘rahmatan lil alamin’,  yaitu bagaimana menebarkan nilai-nilai kasih sayang, kedamaian, mengisi pemberitaan di media sosial dengan keteduhan dan kesejukan serta menumbuhkan toleransi dalam kemajemukan bangsa. Oleh karena itu, politik adalah hal penting dalam berbangsa dan bernegara.

Sebagaimana negara-negara di dunia yang saling terhubung dan terkait satu sama lain, begitu juga dengan politik dan ekonomi. Tak ada persoalan yang berdiri sendiri. Satu sama lain saling terkait, dampaknya saling berkelindan. Sementara hingar- bingar politik bersamaan dengan menjaga daya tahan pelaku usaha menjaga perekonomian. Kebijakan berbingkai nilai- nilai luhur kemanusiaan yang menjamin kebutuhan dasar (basic needs) seperti, sandang, pangan, dan papan yang harus dipenuhi negara terhadap penduduknya.

BACA:  Sains Itu Bebas Politik

Beralih ke masalah ekonomi selalu berbicara soal dilema dan keseimbangan.  Kebijakan ekonomi adalah tentang formula atau cara mengatasi dilema sekaligus mencapai keseimbangan.

Kini, salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah ialah berusaha mencari keseimbangan baru. Francis Fukuyama dalam “Political Order and Political Decay” (2014) mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam tiga hal, yakni negara kuat, penegakan hukum, dan akuntabilitas. Pertanyaannya, bisakah kita memperkuat keseimbangan itu ke 2021?

Di Indonesia pergulatan politik demokratis yang serta merta membawa gelombang aspirasi neoliberal dalam perekonomian terjadi ketika tradisi negara kesejahteraan masih lemah dalam keseimbangan baru tersebut. Dengan demikian,  ekonomi perlu ditopang kebijakan struktural yang lebih meningkatkan daya saing global. Jika tidak, tahun 2021 akan menemui persoalan yang sama dengan tahun 2020 atau bahkan lebih buruk.

Menyoal Politik Ekonomi di Kedai Kopi
Foto (ist): Ilustrasi Kopi se-Nusantara

Nestapa Kopi Nusantara

Martahari hampir tenggelam di langit Barat, saat seorang lelaki parlente mengajukan pertanyaan, bagaimana dengan dunia perkopian kita? Pertanyaan yang bagus, meski mungkin sebagian orang tidak suka dengan pertanyaan itu. Bayangkan, pertanyaan itu dilakukan di kedai kopi, ketika kita lagi santai “mengopi”.

“Bukan karena aku pandai, tetapi karena sudah lama aku memendam keinginan untuk menjadi pengusaha kopi”, katanya tertawa lepas.  Dulu di kampungku gak ada listrik, kedai kopi kami hanya diterangi lampu petromaks”, lanjutnya.

Kemajuan teknologi memengaruhi karkateristik dan cara pandang generasi muda saat ini. Mereka lebih terbuka dan kritis, serta lebih siap berubah dibandingkan generasi sebelumnya. Berpikir tidak lagi linier, tapi dinamis sesuai tantangan yang ada. Dan, di cafe-lah tempat mereka berdiskusi berkolaborasi atau bekerjasama memecahkan masalah dalam berbisnis.

Perjalanan sejarah akhirnya berujung di era millennial. Inilah era ketika Revolusi 4.0 bergulir dan melahirkan generasi baru. Era yang diwarnai banjir informasi. Narasi literasi “big data” mengemuka. Semakin banyak seseorang membuka dirinya dengan penuh/ sadar terhadap dunia luar, semakin kaya koleksi data dan semakin hidup jejaring relasinya.

BACA:  Sosialisasi FBBI Tentang Bahaya Narkoba (2)

Pada 2019, Indonesia tercatat sebagai produsen kopi terbesar ke empat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Columbia. Namun, Indonesia hanya menempati posisi kedelapan ekspor terbesar di dunia. Kalah dari Brazil, Swiss, Jerman, Kolumbia, bahkan Vietnam. Jadi potret kinerja ekspor Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Vietnam yang pada 2019 mencapai 2,22 miliar dollar AS. Sedangkan kinerja ekspor kopi Indonesia tahun 2019 berada di angka 883,12 juta dollar AS.  Pelajaran apa yang bisa dipetik dari data ini?

Di tengah mendung yang menggelayut nestapa kopi nusantara, ada mimpi sederhana harus dihidupkan di negeri ini. Sebagaimana obrolan di kedai kopi, melakukan refleksi diri, membuka hati penuh kasih sayang untuk yang lain.

Dua alasan memasuki bisnis kopi adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen/ pelanggan dan mengambil ceruk pasar dengan memperbaiki layanan atau produk dibandingkan yang sudah ada.  Kita harus menaikkan daya saing komperatif dan kompetitif, dengan memperbaiki dan menjaga kualitas ekspor (yang memenuhi standard kualitas ekspor).

Perjuangan mesti bergerak tak kenal henti. Teknologi internet dan “big data” memudahkan semua itu. Sebab, selain kita memiliki potensi produk, kualitas dan pasar yang besar juga penting untuk menambah devisa, serta mengurangi defisit neraca perdagangan.

Berbagai jenis kopi Nusantara dengan rasa khasnya berkembang telah melintas zaman menjadi bagian pengembangan industri kopi dari proses sangrai kopi (coffee roaster) hingga penggilingan menjadi kemasan bubuk yang ditawarkan di pasar.

Ketika pandemi Covid-19 menerpa, pemilik kedai atau cafe, pelaku usaha, dan industri kopi terimbas. Ekosistem bisnis kopi Nusantara dari hulu hingga hilir semakin terpuruk dirundung nestapa. Stok menumpuk di gudang dan harga kopi jatuh.

Hingga kini, bisnis cafe dan restoran belum pulih. Permintaan kopi dari dalam dan luar negeri pada tahun ini turun. Hasil panen menumpuk di pedagang, eksportir, dan petani.

Sementara itu, tren impor kopi beberapa tahun terakhir cenderung fluktuatif. Pada 2018, impor kopi tiba-tiba meningkat tajam hingga 454,9 persen sebanyak 79.800 ton dengan nilai 155,8 juta dollar AS. Kemudian, pada 2019 impor kopi kembali turun menjadi 32.102 ton atau senilai 66,2 juta dollar AS. Pada Januari- Juli 2020, volume impor kopi mencapai 11.218 ton atau senilai 26,03 juta dollar AS.

Aneh tapi nyata, kita sebagai produsen kopi tapi masih mengimpor kopi.  Ada apakah gerangan?

BACA:  Darwin Siagian-Hulman Sitorus Maju Kembali di Pilkada Toba 2020, Keluarga Besar Siagian Jakarta-Bandung Siap Dukung

Auld Lang Syne

Tahun 2020 sudah kita lewati. Di sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat, perayaan tahun baru ditengah pandemi Covid-19 masih dirayakan dengan kembang api dengan menyanyikan lagu “Auld Lang Syne” ( Hari-hari yang Telah Berlalu).

Lagu “Auld Lang Syne” awalnya merupakan puisi yang ditulis Robert Burns pada tahun 1788.  Ia bercerita tentang perpisahan dengan masa dan kenangan masa lalu. Pertanyaannya, apakah peristiwa-peristiwa pada tahun yang lewat harus dilupakan begitu saja dan tidak boleh dijadikan pelajaran untuk tahun mendatang?

Tentu saja boleh. Justru mengingat masa lalu dapat dijadikan menjadi pijakan evaluasi untuk berbuat lebih baik dalam menapaki tahun-tahun berikutnya. Namun, tidak boleh larut dalam keresahan, ketidakberdayaan, dan kecemasan bayang- bayang masa lalu. Kita harus bangkit dan mengubah persepsi!

Makna Tahun Baru tetap dipertahankan, meski kita di Indonesia tanpa keramaian perayaan. Tidak salah meresapi lagu “Auld Lang Syne” dengan hikmat agar kita berefleksi tentang kondisi umat manusia yang diterpa Covid-19 untuk memperkuat modal sosial yang dimiliki bangsa ini pada 2021.

Kita berharap refleksi mendalam bangsa ini menapaki tahun 2021, melakukan vaksinasi, didistribusikan secara adil, diiringi untaian doa membuat warga kian penting menggalang asa mengakhiri pandemi Covid-19.

Marilah kita menapaki tahun 2021 dengan optimisme pemulihan kehidupan pasca pandemi, yakni berkontribusi membenahi data neraca kopi. Meliputi konsumsi, penyerapan pasokan komoditas kopi petani, memajukan kualitas dan daya saing, mengikuti alur tradisi minum kopi di kedai kopi yang berbeda dengan tahun sebelumnya. (Jakarta,  3 Januari 2021).

*  Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

Editor: Danny S

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *