Merajut Harapan 75 Tahun Indonesia Merdeka

Menyikapi Kematian Karena Wabah

Oleh: Drs Tumpal Siagian (*)

OPINI

Tradisi rakyat Indonesia  menjelang hari kemerdekaan selalu menyinarkan aura keceriaan.  Namun, pada peringatan 75 tahun Indonesia Merdeka tahun ini kelesuan terasa, karena amukan pandemi Covid-19 yang mengakibatkan ketakutan terhadap keidakpastian dan dampak krisis ekonomi yang mengancam. Itu ditandai dengan pertumbuhan ekonomi minus 5, 3 lalu ekonomi terkontraksi yang menjurus ke resesi ekonomi.

Pandemi telah menyingkapkan keadaban kita yang masih berbasis ketakutan, saling menyalahkan dan curiga bahkan dalam panggung politik dimanfaatkan kelompok tertentu berkonspirasi meraih kekuasaan. Rumor yang dibangun, krisis ekonomi akan berkembang menjadi krisis pangan, lalu krisis sosial dan ujungnya krisis politik yang jika tidak dikelola dengan baik bisa berujung pada pergantian kepemimpinan Nasional. Begitulah berita yang mengusik ketenangan kita.

Hampir semua kalangan dibuat khawatir namun pandemi juga menjadi pembuktian tentang kapasitas sesungguhnya dari seseorang untuk merajut harapan.  Harapan tampil ketika kita mau merancang masa depan. Harapan harus terus dinyalakan karena bangsa ini sangat butuh harapan.

Berangkat dari pemahaman, kesadaran, dan niat yang kuat atas pengendalian wabah Covid-19, harapan didasarkan pada penguatan sains dan teknologi untuk menemukan vaksin.  Di sisi lain, harapan dialaskan pada penguatan spiritual melalui tokoh agama dengan jalur penggembalaan atau fatwa untuk menuntun dan melindungi umat dari kecemasan dan ketakutan penularan pandemi, yang masih terus menanjak belum juga terkendali.

Covid-19 telah membenturkan kita kembali kepada eksistensial dasar, soal memaknai kehidupan dan kematian, serta peran orang lain dalam hidup kita.  Memang kini respons praktis paling spontan adalah “berdamai” menghadapi Covid-19. Upaya yang bisa dilakukan adalah mengurangi resiko penularan, kedisplinan dan kewaspadaan: disiplin bermasker, disiplin cuci tangan dan jaga jarak tidak boleh kendur.

Dari sisi ini, pandemi bukan hanya bencana melainkan justru memperbesar kerjasama, menumbuhkan kemampuan berempati, bela rasa dan solidaritas kian meluas mempererat persaudaraan sejati.

BACA:  Serial Kearifan Batak (1): Save The Best for Last

“Pengetahuan” tidak sama dengan “kearifan’ (wisdom), dan dunia iptek tidak otomatis lebih baik daripada hikmat.  Kualitas keadaban ditentukan oleh bagaimana secara reflektif kita memaknai kehidupan, cara berpikir, cara bersikap dan nilai-nilai apa yang diprioritaskan. Itu bisa dilandasi sains, teknologi, tradisi budaya, tapi terutama  dilandasi agama dan hikmat dari Tuhan: pintu terbuka di jalan yang buntu sebagai cara manusia memahami dirinya. Dalam hal ini iptek dan spiritual berjalan beriringan, “Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu” (2 Tawarikh 15:7).

Reflektivitas Kemerdekaan

Adapun makna kemerdekaan sulit dipahami hanya dari semantika. Libera (Latin) berarti bebas, merdeka. Liberia adalah negeri Afrika yang dengan bangga didirikan pada awal abad ke-19, oleh bekas budak Amerika yang menghargai kemerdekaan dari perbudakan.

Dalam bahasa Inggris liberty berarti kemerdekaan (untuk melakukan sesuatu). Rakyat Perancis menghadiahkan Patung Liberty kepada rakyat Amerika sebagai simbol dukungan kepada kemerdekaannya dari Inggris dan kemenangan pihak antiperbudakan dalam perang saudara Utara-Selatan.

Akan tetapi, sekarang “Liberal” lebih sering digunakan dalam konteks ekonomi menjadi ideologi Kapitalisme. Kini, kita dididik percaya pada nalar dan selera kapitalisme. Masyarakat dianggap stabil dan adil karena kita saling membutuhkan. Kita bertukar barang dan jasa dalam “persaingan bebas” di ruang publik/pasar.  Peradaban diharapkan maju apabila semua orang bekerja keras. Kapitalisme pun dikritik dari berbagai arah dengan ideologi baru yang memuliakan kesejahteraan kolektif: Komunisme dan Sosialisme.

Dalam sejarah Indonesia, Soekarno berusaha mendamaikan berbagai ideologi yang progresif itu. Ia bertekad melindungi kemajemukan di Tanah Air dengan ideologi Pancasila.

Kemerdekaan,dimaknai sebagai konsistensi bernegara hukum, taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Bukankah setiap perayaan 17 Agustus,selalu dibacakan teks Proklamasi dan diperdengarkan lagu-lagu penyemangat bernada patriotisme? Oleh sebab itu, dari konteks konstitusi, perlu dipertanyakan konsistensi kepada pihak-pihak yang ngotot menginginkan pergantian pimpinan Nasional, agar mau introspeksi siapa konsisten dan inkonsisten dalam bernegara hukum?

BACA:  Pidato Kenegaraan dan Teks Lengkap Pidato Presiden Jokowi 14 Agustus 2020

Hidup kita selama 75 tahun dimaknai sebuah perjalanan yang harus terus bergerak maju, dan kita pun harus siap untuk menghadapi segala tantangan dan pergumulan yang terjadi. Sejumlah negara dan kawasan juga mengalami ketidakpastian akibat krisis ekonomi yang mendera, namun Indonesia mempunyai resiliensi daya tahan ekonomi telah terbukti saat krisis keuangan global pada tahun 2008. Saat itu, Indonesia mengalami gejolak, tetapi tidak sampai jatuh pada krisis sebagaimana terjadi 1998.

Oleh karena itu, saat ini diperlukan kecerdasan pikir untuk mengambil pilihan serta menetapkan kebijakan yang strategis. Disitulah diperlukan hikmat Tuhan yang bernas dan konstruktif harus mendapat tempat, mencerdaskan rakyat merupakan imperatif amanat Konstitusi. Semangat, kegigihan, ketekunan dan mental pantang menyerah dengan slogan: Merdeka atau Mati.

Pertaruhan Merdeka atau Mati kini diimplementasikan dalam merajut harapan pendidikan karakter bangsa. Merajut harapan yang didasarkan atas azas rasionalitas yang berorientasi jauh kedepan yaitu, mewujudkan pemerataan pendidikan.

Pendidikan karakter harus tetap digelorakan orang tua dan guru ke generasi muda meskipun sampai sekarang dilakukan masih melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). Esensi pendidikan karakter tidak berubah. Anak mempunyai kemerdekaan untuk menjadikan dirinya tumbuh seperti apa, tetapi orang tua dan guru bertanggung jawab untuk merajut harapan yang lebih baik bagi generasi penerus. Itulah narasi ataupun imaji moral dalam mengisi kemerdekaan kita.

 

Kedamaian  Dalam Praksis Keagamaan

Sejarah politik Indonesia digagas, dipelopori, dan diorganisasikan oleh kaum inteligensia atau cendekiawan. Manakala kita merayakan 75 tahun Indonesia Merdeka, alarm pengingat harus dibunyikan kencang-kencang agar kita kembali ke khittah cerdas pikir Republik.

Pada gilirannya, bangsa kita memiliki modal kuat  kultural, sosial, politik dan spiritual akan mengantarkan umat ke keadaban yang mencerahkan yaitu, kedamaian. Dengan kemampuan mentransformasi kedamaian personal menjadi kedamaian sosial yang bermakna dan bermanfaat bagi banyak orang. Disini transformasi “damai” dalam praksis keagamaan imperatif menjadi tindakan kebajikan menghargai perbedaan.

BACA:  FBBI dan Organisasi Perkumpulan Batak, Apresiasi Penegasan Presiden Jokowi dalam Kebebasan Beribadah

Indonesia sebenarnya juga punya tradisi menyelesaikan secara damai pertikaian dan konflik yang bersumber dari intoleransi keagamaan. Meski Indonesia punya sejarah dan tradisi kehidupan antaragama yang toleran, damai, dan harmonis sepatutnya kita tidak bersikap “taken for granted”, bahwa kedamaian itu sudah terwujud sehingga tidak ada lagi masalah yang perlu dirisaukan.

Akan tetapi, toleransi dan kerukunan senantiasa memerlukan revitalisasi dan penguatan. Termasuk paling penting resosialisasi serius dan komprehensif faktor pemersatu bangsa, apa pun agamanya, yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Semua kesepakatan konstitusional ini jelas merupakan modal terbaik Indonesia untuk membangun kehidupan bermakna sehingga menjadi tata kehidupan sehari-hari (order of the day) inklusivitas, harmoni, toleran, dan damai. Merdeka! (Jakarta, 10 Agustus 2020)

*  Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

Editor: Danny S

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *