Natal dalam Sebungkus Ombusombus

Sarito na Marimpola di Minggu Adven (Tinongos Muse)

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Saat ini, di era postmodern ini, perayaan Natal telah melenceng jauh dari tujuan, yang menempatkan hakikat Natal itu pada posisi terjepit di antara teosentris dan antroposentris.

“Kalau bisa, tolonglah disampaikan kepada pengkhotbahnya agar khotbahnya dipersingkat saja. Lima belas menit saja. Soalnya, masih banyak acara setelah khotbah, antara lain vocal grup kaum ibu dan stand-up comedy kaum bapak. Nggak enak nanti pada saat mereka tampil, orang sudah beranjak pulang. Kasihan mereka, padahal mereka sudah bersalon cantik-cantik sejak pagi. Belum lagi, hadiah lucky-draw itu, banyak sekali yang harus diberikan”, kata seorang panitia perayaan Natal kepada anggota panitia lain yang mengurusi acara ibadah.

“Tenang saja, lae! Orang tidak akan pulang itu. Kita sengaja telah menyiapkan hadiah lucky-draw yang banyak dan menarik agar mereka tidak cepat-cepat pulang. Pokoknya, Natal kita kali ini sukseslah!”, jawab anggota panitia lainnya spontan.

Di perayaan Natal lain, panitia menyediakan tempat berfoto-ria bagi siapa saja pengunjung yang mau berfoto. Latar belakangnya, antara lain adalah, gambar kandang domba beserta palungan yang di atasnya bayi Yesus diletakkan. Selain itu, tentu saja, ada nama perkumpulan yang sedang marayakan Natal itu lengkap dengan tema dan subtemanya. Jadilah antre berkodak-ria. Pose dengan mengancungkan jari bertanda victory menjadi pemandangan yang jamak saat ini. Tak ketinggalan selfie-ria yang kadang membuat mereka tak mengikuti acara ibadah dengan lengkap. Eh, saya hampir lupa! Salah satu subtema yang tertulis di latar belakang berfoto itu adalah “Dengan semangat Natal kita tingkatkan kepedulian terhadap sesama!” Mulia sekali!

Di perayaan Natal lain, saya melihat para penerima tamu memegang puluhan buku tertib acara per orang, padahal masih banyak peserta yang belum mendapat buku tertib acara. Usut punya usut, rupanya nomor undian lucky-draw ada di buku tertib acara itu.

Terkait dengan judul tulisan ini dan hingar-bingar perayaan Natal saat ini, saya menjadi teringat akan perayaan Natal yang kami lakukan tahun lalu. Waktu itu saya mengusulkan agar snacknya adalah lampet (yang berbungkus daun pisang dan pohul pohul). Walaupun harus melalui diskusi yang panjang dan alot, karena hal ini dianggap ‘murahan’ dan bisa-bisa akan mendatangkan rasa malu, akhirnya kami menyepakati usulan itu. Salah satu dasar saya mengusulkan itu adalah kesederhanaan. Selain itu, hitung-hitung, hal itu akan membantu ‘pengusaha’ lampet juga. Soalnya, paling sedikit 4.000 bungkus dan 2.000 pohul lampet harus dipesan. Sayang, rencana itu tak kesampaian, karena di tengah jalan ada teman pengusaha roti yang bersedia menyumbang roti untuk keperluan perayaan Natal tersebut.

Teman-teman yang saya kasihi! Pada dasarnya, skenario kelahiran Yesus yang penuh kesederhanaan itu bermaksud mencelikkan mata kita bahwa Dia hadir untuk melakukan pembelaan kepada kaum terpinggirkan dan tertindas. Pada saat yang sama, Tuhan juga mengingatkan manusia karya besar penyelamatan-Nya adalah rupa dari kepedulian (kasih-Nya) kepada semua umat manusia. Oleh karena itu, Tuhan berharap agar perilaku mengasihi dan peduli itu tertular kepada manusia, termasuk ketika manusia merayakan hari kelahiran-Nya. Untuk kita ketahui, peduli kepada sesama, terutama kaum termarginalkan, adalah perwujudan dari kasih.

Natal dan Kepedulian Sosial

Salah satu hakikat Natal adalah tumbuhnya kepedulian sosial terhadap sesama manusia, seperti Yesus memerdulikan manusia. Yesus menghendaki itu ada pada umat yang ditebus-Nya. Yesus menghendaki kita agar mengasihi sesama. Yesus menginginkan kita memiliki kepedulian sosial.

Kepedulian sosial adalah buah dari modal sosial yang baik. Merebaknya perilaku hedonistik, perilaku konsumtif dan serakah, pemujaan terhadap kenikmatan duniawi, dan gaya hidup yang menyombongkan diri merupakan indikasi meningkatnya ketidakpedulian sosial.

Francis Fukuyama, dalam bukunya The Great Disruption, menyatakan bahwa modal sosial berseberangan dengan ketidakpedulian kepada sesama. Jika modal sosial diartikan sebagai kumpulan norma yang tertanam dalam tatanan masyarakat, ketidakpedulian menandakan menipisnya modal sosial.

Berkaitan dengan menipisnya modal sosial dan kepedulian sosial, saya teringat kepada sebuah cerita klasik tentang perangkap tikus. Ceritanya begini. Suatu ketika, seekor tikus mengetahui bahwa di dalam sebuah lumbung padi di mana dia biasa berada telah dipasang perangkap untuknya. Tikus itu memberitahukannya ke seekor kerbau. Lalu, kerbau menjawab enteng, “Heh… Apa urusannya dengan saya, itu kan perangkap untuk kau! Sekali kuinjak, pastilah perangkapnya hancur”. Kemudian, dengan sedih, tikus itu menceritakannya ke seekor kambing. Respons kambing pun tak beda dari respons kerbau. Lalu, dengan hampir putus asa, tikus memberi tahu ular. Setali tiga uang, jawaban ular pun sama.

Malamnya, perangkap itu mendapatkan mangsanya. Itu, ternyata adalah si ular tadi. Pada suasana gelap si pemasang perangkap menangkap buruannya dengan menyangka bahwa itu adalah seekor tikus. Ketika dia hendak meraih perangkap itu, si ular yang terperangkap mematoknya.

Dia pun jatuh sakit dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Uangnya habis, tetapi sakitnya tak kunjung sembuh. Lalu, untuk membiayainya kambing dijual ke tempat pemotongan kambing. Kambing pun tewas. Si pemasang perangkap akhirnya mati, tak tertolong. Seperti biasanya adat yang berlaku, pada acara penguburannya, seekor kerbau harus dipotong. Lalu, kerbau pun menyusul kambing. Akhirnya, tinggallah seekor tikus menangisi kepergian tiga sobatnya yang tidak mau mendengar peringatannya.

Ular, kambing, dan kerbau dalam cerita ini adalah potret dari manusia yang tidak memiliki modal sosial dan kepedulian sosial. Seringkali kita tidak peduli dengan orang di sekitar kita karena kita menganggap bahwa itu bukan urusan kita. Kita tidak menyadari bahwa kita hidup di lingkungan sosial yang saling membutuhkan.

Akibatnya, kita sibuk dengan urusan kita sendiri. Kita tidak peduli, tidak peka, tidak memiliki empati. Padahal, Yesus begitu peduli terhadap kita. Dia lahir dalam suasana keprihatinan, tetapi kita merayakannya dengan penuh kemewahan dan kesombongan. Kita mengabaikan hakikat dari karya penebusan-Nya. Karenanya, perayaan Natal kita tujukan untuk memuliakan manusia (antroposentris), bukan memuliakan Dia yang hari jadi-Nya kita rayakan.

Lalu, bagaimana dengan ombusombus itu? Semoga, suatu saat kelak, akan ada perayaan Natal yang disemarakkan oleh ombusombus. Lalu, Tuhan akan berkata: “Enak sekali ombusombus ini, bah! Siapakah gerangan yang membuatnya?”

Kita pun akan menjawabnya dengan girang hati, sambil bernyanyi:
Ai Boru Hombing do
Na patupahon i mansai tabo

Selamat Adven IV!

Penulis: Albiner Siagian (Sahalak parhalado di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dohot Revolusi Mental na marbisoloit)

BACA:  Pemimpin Itu adalah Motivator

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *