Ompu Sonang Br Rambe, Sosok Teladan Pekerja Giat

Ompu Sonang Br Rambe, Sosok Teladan Pekerja Giat

SIPAGIMBAR, BatakIndonesia.com — Namanya Sonang Br Rambe, usia 90 tahun. Ia biasa dipanggil ompu (nenek). Kondisinya saat ini sudah tua renta, hanya tergeletak di kamarnya di sudut gubuk kecil. Ompu ini sejak kecil matanya buta. Meskipun kondisinya seperti itu, ia tidak kalah dengan manusia normal. Ia bekerja, jalan jauh sendiri, memetik kopi dan cabai, bahkan dapat berjalan melintasi jembatan ganya bambu.

Sebagai seorang tunanetra, Ompu Sonang seorang yang giat bekerja dan pantang menyerah walaupun ia memiliki keterbatasan. Siapa menyangka kalau ompu ini menikmati hidupnya dengan penuh sukacita, sesuai dengan namanya Sonang, yang berarti senang, bahagia, dan damai. Semuanya ini dapat dirasakan oleh ompu ini karena ada satu sosok yang senantiasa setia dan menjadi sahabatnya, yaitu Yesus Kristus. “Tuhan Jesus do donganku (Tuhan Yesus adalah sahabatku),” kata ompu ini dengan senyumnya.

Dalam kesempatan saya pulang ke bonapasogit (kampung halaman), saya menyempatkan diri mengunjungi Inanguda (tante/bibi) ini. Saya memanggilnya Inanguda. Saya diberitahu bahwa Inanguda ini dalam kondisi sakit karena faktor usia yang makin tua.

Inanguda atau ompu ini memiliki ingatan (memori di otak) luar biasa. Ia masih tetap mengingat saya meskipun sudah sangat lama kami tidak jumpa. Pertemuan pertama saya dengan inanguda ini ketika saya masih SD kelas 2. Suara saya dihapalnya. Pernah pada 1978 lalu, ketika saya lulus Sarjana Muda dan bertemu dengan Inanguda ini, begitu dengar suara saya, ia berseru “Narodo ho Amang Ronsen?” (“Kamukah itu yang datang Pak Ronsen?”)

Saat saya menjumpainya kembali pada Jumat (10/5/2019) ini, Inanguda ini tidak segera diingatnya saya. Saya memaklumi karena usianya sudah 90 tahun. Namun begitu saya sebut nama Inangku, Dorkas Emelia Dongoran, baru Inanguda ini bersuara sedikit keras, “Bah hodoi Amang Ronsen.” (Wah, kau rupanya Pak Ronsen).

Inangudaku ini sungguh bahagia tercermin di wajahnya. Saya datang menjenguknya dan membawakan sesisir pisang sebagai oleh-oleh dan memberikan sedikit berkat kepada Inanguda ini untuk keperluannya. Di akhir pertemuan kami, saya ajak dia berdoa. Lagi-lagi sekali dia ingat Tuhan Yesus, dengan tegar dan tegas dia berseru, “Olo Tuhan Jesus do donganku.” (Ya sungguh, Tuhan Yesus adalah sahabatku).

Diceritakan oleh: Ronsen Pasaribu (Ketua Umum FBBI)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

BACA:  Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian II)

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *