Orang Batak Memang Unik

Orang Batak Memang Unik

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Ada falsafah orang Batak yang terkenal Makuling Mudar. Makuling mudar dapat diartikan sedarah pasti darahnya berbunyi. Ini mirip dengan orang Dayak di Kalimantan. Kalau sudah satu etnis ada keterikatan genetika yang kuat dan keterikatan itu berbunyi darahnya.

Kekerabatan tegak lurus tentu lebih berbunyi nyaring. Sebagai misal saya bermarga Sinaga. Otomatis saudara semarga saya Sinaga yang ada di Jakarta Dapil 3 akan berbunyi darahnya. Makuling mudarnya. Suka tidak suka begitu tahu ada saudara semarganya maju, darah satu moyang akan berbunyi. Demikian juga caleg bermarga lainnya.

Tapi apakah itu mutlak?

Nah inilah uniknya orang Batak. makuling mudar itu tentu ada syarat dan prasyarat tertentu. Prasyarat itu si caleg tentu harus berbobot, tidak membuat malu atau tidak mencoreng nama baik marga.

Hukum makuling mudar itu berlaku jika si caleg memiliki nilai yang positif. Baik dalam tutur kata dan tindakannya. Jika arogan, sombong, dan menyakiti perasaan maka tak peduli semarga orang akan mencemooh si caleg itu.

Secara umum orang Sumut membingungkan orang non Sumut. Jika di daerah lain ego kesukuan sangat puritan. Di Sumut bisa berbeda.

Tidak percaya?

PSMS Medan sering mengalaminya. Saat bertanding di Stadion Teladan Medan, jika PSMS Medan bermain buruk seluruh penonton akan menyorakinya. Lalu bersorak bertepuk tangan untuk lawannya. Aneh bukan? Beda sama bobotoh Persib atau Bonek Persebaya Surabaya. Jelek atau bagus gak peduli. Puja puji kudu wajib. Ada yang ejek siap-siap benjol kepala berdarah. Unik kan.

Nah itulah yang terjadi sama Jansen Sitindaon, Caleg Partai Demokrat Dapil 3 Sumut. Jansen mengeluh karena saudara satu sukunya orang Batak lebih memilih Djarot Syaiful Hidayat. Djarot asal Blitar yang notabenenya pendatang di tanah Batak dapat suara luar biasa. Jansen dengan getir menulis saudaranya sendiri tidak memilih dirinya. Hanya gegara dirinya tidak mendukung Jokowi.

Benarkah hanya gegara tidak mendukung Jokowi?

Tentu tidak. Banyak koq caleg Demokrat yang tidak mendukung Jokowi, tetapi tidak begitu ditolak orang Batak. Sekjen Demokrat Hinca IP Pandjaitan juga maju di Sumut. Tetapi saya tidak mendengar suara amarah orang Batak kepadanya.

Hinca sosok yang sangat faham adat Batak. Somba marhula hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Tutur katanya halus dan terjaga. Secara personal diterima, secara partai karena berbeda dengan pendukung Jokowi tidak.

Sedangkan Jansen sering omongannya saat debat sangat ekspresif menyerang. Tutur katanya hampir 11 12 dengan Ferdinand Hutahaean. FH menjadi simbol orang Batak yang paling tidak disukai di tanah Batak. Sumpah serapah, caci\-maki kerap kali terdengar jika FH bicara di TV.

Di Tobasa, salah satu kabupaten tanah Batak, Jokowi Amin mendapat suara spektakuler. Di atas 95 persen. Djarot Syaiful Hidayat juga dapat suara yang sangat tinggi di tanah Batak. Padahal Djarot orang Jawa. Takkan mungkin makuling mudar. Tetapi makuling mudar itu hanya berlaku pada saudara yang sejiwa. Bukan pada saudara yang menyerang Jokowi tanpa tedeng aling-aling.

Bagi orang Batak, Jokowi itu melebihi makuling mudar. Makuling tondi. Berbisik jiwa orang Batak ketika bicara Jokowi. Jadi jangan coba-coba mengusik Jokowi. Hukuman akan dijatuhkan. Tanpa belas kasihan. Tunai.

Salam perjuangan penuh cinta.

Penulis: Birgaldo Sinaga

BACA:  Revolusi Ala Corona

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *