Parbahulbahul na Bolon Itu Bernama Jokowi

JAKARTA, BatakIndonsia.com — Di kalangan Orang Batak ada julukan bagi orang yang tidak terukur kebaikan hati dan kebesaran jiwanya. Julukan itu adalah Parbahulbahul na Bolon. Barangkali, maksudnya di Bahasa Indonesia adalah seseorang yang hidup dalam kelimpahan (a person living in abundance).

Kata ‘parbahulbahul‘ berasal dari kata dasar bahulbahul (Indonesia: bakul) yang dibubuhi awalan ‘par’ di depannya. Awalan par memberi makna pemilik bagi kata benda bahulbahul itu. Dengan demikian, parbahulbahul berarti pemilik bahulbahul. Kalau ditambah dengan kata ‘na bolon’, maknanya menjadi pemilik bahulbahul (bakul) yang besar.

Bahulbahul adalah bakul yang terbuat dari anyaman daun pandan (Batak: baion). Kalau ukurannya besar, dia disebut bahulbahul, sedangkan kalau kecil disebut parrasan (bakul kecil).

Bahulbahul digunakan sebagai tempat menyimpan padi yang sudah dikeringkan (lumbung padi). Dahulu, salah satu indikator kekayaan Orang Batak, selain banyaknya kerbau di kolong rumah, adalah masih tegaknya bahulbahul itu berdiri. Kalau dia masih tegak berdiri, apalagi hingga masa panceklik, itu pertanda padi di dalamnya masih penuh. Dengan kata lain, pemiliknya adalah orang kaya yang memiliki sawah yang luas. Oleh karena itu, kalau seseorang bertamu ke rumah keluarga orang Batak, sebelum menaiki tangga rumah, yang pertama dilirik adalah kolong rumahnya. Lalu, setelah memasuki rumah, dia melirik bahulbahul itu di loteng (Batak: sokkor) rumah.

Kata bahulbahul itulah dipilih Orang Batak untuk menggambarkan seseorang yang paripurna kebaikannya, yang pemurah, yang pengadil, yang pemaaf, yang penolong, yang pengayom, yang bijaksana, yang rendah hati, dan yang berjiwa besar.

Mengapa? Padi adalah simbol kesejahteraan dan kerendahan hati. Padi merunduk tanda berisi. Bahulbahul na bolon yang berdiri tegak adalah simbol keteguhan hati, konsistensi, dan integritas, plus kerendahan hati. Walaupun diterpa gempa, bahulbahul na bolon tetap berdiri tegak tak tergoyahkan. Kurang lebih, demikianlah perilaku seseorang yang dijuluki Parbahulbahul na Bolon.

Parbahulbahul na Bolon rangkuman dari tiga perilaku luhur pada masyarakat Batak, yaitu Paramak so ra Balunon, Partataring so ra Mintop, dan Parsakkalan so ra Mahiang. Paramak so ra Balunon (Tikar yang tak pernah tergulung) bermakna orang yang pintu rumahnya selalu terbuka untuk setiap tamu yang datang berkunjung. Partataring so ra Mintop (Api di tungku tak pernah padam) dan Parsakkalan so ra Mahiang (Telonan tak pernah kering) sama-sama berarti orang yang yang selalu memberi minum dan makan setiap tamu yang datang. Oleh karena itu, Parbahulbahul na Bolon berarti orang yang ramah, penolong, berempati, bersimpati, dan bermurah hati.

Saat ini, orang yang berciri parbahulbahul na bolon itu sulit ditemukan, termasuk di kalangan Orang Batak. Akan tetapi, saya menemukan sosok itu di diri seorang lelaki kurus (baoa na lihi) wong Solo itu. Kesederhanaannya tak terimbangi oleh siapapun. Keramahannya tak terbandingkan. Kebesaran hati dan jiwanya tak terjelajahi. Kesabarannya tak bertepi. Cadangan maafnya tak terbatas. Karenanya, tidaklah berlebihan kalau kepadanya, Bapak Joko Widodo itu, disematkan Goar Hasangapon (Gelar Kehormatan) Parbahulbahul na Bolon i.*

*)Semata-mata atas dasar penilaian penulis

Penulis: Albiner ‘Rabar’ Siagian

BACA:  Pemimpin Itu adalah Motivator

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *