Pembangunan Pariwisata Danau Toba untuk Siapa?

Pembangunan Pariwisata Danau Toba untuk Siapa?

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Tidak seorang pun menyangkal  keindahan natural Danau Toba. Ketersohorannya sudah mendunia. Ketiadaan tandingan danau vulkanik Toba dan keindahannya membuat orang berdecak kagum sembari berucap: “Kepingan surga di Tanah (Tano) Batak.”

Masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT) sungguh menikmati keberkahan hadirnya ‘kepingan surga” di tanah Batak. Alam yang berbukit-bukit ditumbuhi pepohonan hijau menghadirkan udara yang bersih dan segar. Air Danau Toba  menjadi sumber utama air minum masyarakat dan tempat berkembang biak ikan-ikan asli (endemik) seperti ihan Batak, pora-pora, dan asa-asa. Dalam ritual adat istiadat Batak, ihan Batak adalah makanan para raja dan sesembahan (upa-upa) kepada Tuhan yang diberikan oleh Hulahula (pihak pemberi istri) kepada Boru (pihak penerima istri).

Awal Petaka

Perlahan namun pasti, kepingan surga itu berubah menjadi kepingan “suga” (duri) bagi masyarakat KDT. Perusakan lingkungan dimulai dengan nafsu mendongkrak penerimaan devisa negara dari sektor pengolahan kayu menjadi pulp. Maka pada tahun 1983 didirikanlah PT. Inti Indorayon Utama (PT ILU). PT. ILU merupakan anak perusahaan PT. Raja Garuda Mas dengan status Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Berbekal peraturan dan perundang-undangan yang berlaku ketika itu dan privellege yang dimiliki dimulailah pembabatan hutan eucalyptus di KDT. Cengkeraman PT. ILU semakin kokoh ketika statusnya berubah menjadi Penanaman Modal Asing (PMA)  tahun 1990. Oleh berbagai sebab dan pertimbangan (tentunya ekonomi dan politis) PT. ILU berganti “baju” menjadi PT. TPL. Tetapi apakah sepak terjangnya semakin membaik? Apakah ia memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi bagi masyarakat dan lingkungan KDT? Wallahu Alam Bishawab. Hanya oknum tertentu dan Tuhan saja yang mengetahuinya.

Fenomena kehadiran PT. ILU dengan segala argumentasi yang mengikutinya menjadi daya tarik  bagi pengusaha lainnya untuk meniru, maka bermunculanlah usaha ternak babi dan Keramba Jaring Apung (KJA). Berbisnis sambil berwisata diharapkan menjadi motor penggerak perekonomian daerah KDT. Hotel berbintang bermunculan di sekitar Danau Toba. Perilaku pengusaha yang mendapat privillege dari penguasa dan patut diduga oleh dorongan  less trickle down effect  kepada masyarakat, maka masyarakat di KDT pun menduplikasi perilaku para pengusaha, sehingga  lingkungan alam Danau Toba mengalami kerusakan parah. Bukan hanya kepingan suga, tetapi sudah berubah menjadi marsuga-suga (berduri-duri). Meminjam perkataan  Menteri Luhut Binsar Pandjaitan: “Danau Toba saat ini sudah mengalami kerusakan yang sangat parah!” (Tempo.co, 20/11/2018).

Berkat atau Mudarat

Pemerintah Indonesia menaruh perhatian besar atas pengembangan Kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata yang berkelas. Menurut Presiden Jokowi, ada 28 titik wisata di Danau Toba yang bisa memikat wisatawan. Titik Wisata tersebut akan segera dikembangkan pemerintah dan diharapkan selesai tahun 2020. Pembiayaan berasal dari APBN sebesar 3,5 triliun rupiah dan dari non APBN bisa tiga kali lipat (detiknews.com, 29 Juli 2019).

Seiring dengan tekad pemerintah pusat untuk membuat KDT menjadi destinasi berkelas setelah Bali, pembangunan sarana dan prasarana dilakukan dengan gencar. Mulai dari peningkatan Bandara Silangit menjadi Bandara Internasional. Landasan pacu Bandara Sibisa diperpanjang dari 1.200 meter menjadi 2.500 meter yang akan diperuntukkan bagi pendaratan jet pribadi orang kaya. Pembangunan hotel bintang empat dan bintang lima, dan lain-lainnya.

Pemerintah juga akan menggalakkan penghijauan dan pertanian di KDT. Tanah yang diberikan 150 hektare selama ini kepada Toba Pulp Lestari, 50 hektare akan dikembalikan kepada pemerintah, 25 akan disediakan untuk menggalakkan penghijauan dan 25 hektare lagi untuk pertanian (Suara Batak Edisi Perdana September 2019).

Dari seluruh rangkaian keindahan-kepiluan-dan tekad membangun pariwisata Danau Toba berkelas, layaklah diajukan pertanyaan:  Untuk siapakah semua pembangunan itu? Jargonnya pastilah, bahwa pembangunan di Kawasan Danau Toba untuk kesejahteraan masyarakat Batak. Apakah jawaban tersebut bersifat kondisional? Kita akan dengarkan pemaparan dari para narasumber Webinar  kali ini dengan tema: “Pembangunan Pariwisata Danau Toba, untuk Siapa?” Webinar ini diselenggarakan pada Kamis (27/8/2020).

Pewarta: Ir. Santiamer S. Haloho. Sekretaris Jenderal DPP. Lokus Adat Budaya Batak (LABB)

BACA:  Serial Kearifan Batak (5): Parbahulbahul na Bolon

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *