People Power, Apakah Itu?

People Power, Apakah Itu?

JAKARTA, BatakIndonesia.com —The communities in which you (scientists) live and the communities much farther out … are ultimately affected by the work that you do”
(Mark Frankel, the Director of the Scientific Responsibility, Human Rights, and Law Program at the American Association for the Advancement of Science)

Orang Batak punya peringatan bijak soal people power itu, tepatnya mengantisipasi agar jangan terjerumus ke dalam jurang people power sesat. Peringatan itu berupa perumpamaan:

Ijuk di parapara, hotang di parlabian,
na bisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan.”

Makna kiasannya kira-kira demikian: “Orang pintar memiliki kata-kata (kuasa) dengan kepintarannya, yang karenanya orang bodoh diperjualbelikan karena kebodohannya.” Secara sederhana, perumpamaan itu bermakna orang pintar mengeksploitir orang bodoh.

Saya menduga, perumpamaan ini mengada karena leluhur orang Batak melihat fenomena itu sebagai fakta yang jamak terjadi pada masa itu (dahulu). Selain mengungkapkan fakta, perumpamaan itu dimaksudkan sebagai peringatan kepada orang bodoh agar berhati-hati kepada orang pintar atau agar jangan mau dikungkungi atau diperhamba oleh kebodohannya.

Terkait dengan itu, orang Batak juga punya perumpamaan yang tak kalah bijaknya:

Na mora na tau parsalian,
na bisuk na tau parguruan!

Terjemahan bebasnya adalah “Orang kaya yang gemar meminjamkan hartanya, orang pintar yang rajin mengajarkan kepintarannya!”

Perumpamaan itu amat mengena dengan keadaan akhir-akhir ini, di tengah-tengah isu akan adanya gerakan people power itu. Kalau isu itu benar, tentu saja penggeraknya adalah orang pintar (yang punya kata-kata dan kuasa untuk menggerakkan). Di pihak lain, rakyat (people) yang hendak ‘dimanfaatkan’ tenaganya (power) adalah mereka yang perasaan dan suasana hatinya (emosi) rentan dieksploitasi karena keluguan, ketidakkritisan, dan kebodohannya. Kerentanan untuk dieksploitasi itu makin mewabah ketika keluguan, ketidakkritisan, dan kebodohan itu disertai oleh fanatisme kelewat dosis.

Oleh karena itu, wahai kaum terdidik, kaum berkuasa, kaum pemilik corong pengeras suara demagogi, berhentilah mengeksploitir kaum lugu itu. Kalau Anda adalah kaum terdidik, didiklah mereka, ajarilah mereka, dan angkatlah mereka dari kubangan lumpur kebodohannya, karena itulah hakikat keterdidikanmu yang sebenar-benarnya. Kepada kaum terdidik lainnya, saya menghimbau suarakanlah kebenaran dan kebaikan. Jangan bungkam, karena menyuarakan kebenaran dan kebaikan adalah tanggungjawab sosialmu kepada rakyat.

(Dituliskan di salah satu kedai kopi di sebuah bandara sambil menunggu keberangkatan yang tertunda 3,5 jam 🙂

Penulis: Albiner Siagian

BACA:  Natal dohot Pardengganan

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *