Perantau: Dulu dan Sekarang

Ronsen: Pemberdayaan Masyarakat Kunci Sukses Pariwisata Danau Toba

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Merantau sebuah pilihan bagi orang berdomisili di kampung halaman. Pilihan bagi seseorang itu sadar atau tidak sadar tertanam di alam bawah sadarnya. Misalnya, setelah lulus SMA mau ke mana? Sebaliknya, banyak juga orang tidak memilih di antara pilihan itu, artinya tanpa banyak berpikir panjang. Sudah, ambil keputusan! Saya akan merantau selepas lulus SMA. Ke mana? Itu urusan lain.

Merantau, sebuah konsep yang lazim bagi orang Sumatra Utara, tanpa kecuali masyarakat Tapanuli Selatan. Pergi, meninggalkan kampung halamannya! Ia meninggalkan orangtua dan sanak saudara dalam waktu lama. Tidak tahu untuk berapa lama? Sangat mungkin, ia tidak akan kembali sebelum tujuan merantau berhasil tercapai.

Terhipnotis. Ya, seseorang itu bisa terhipnotis atas cerrita seribu dongeng indahnya ibukota Jakarta. Serba gemerlap, serba mudah, dan yang indah-indah lengkap. Ketimbang di kampung halaman, lebih baik di kota metropolitan. Ini seperti bumi dan langit. Ia harus bisa berbahasa indonesia, berperilaku harus ikuti ala Jakarta. Pokoknya di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak. Itulah alasan pembenar. Mengapa orang bisa berubah, mudah melupakan kampung halamannya?

Harusnya tidak terhipnotis. Ya, betul. Merantau itu harus berdasarkan pertimbangan yang matang, referensi yang cukup dan perlu dikalkulasi. Apakah saya akan melanjutkan sekolah? Jika ya, sekolah apa dan di mana?. Modalnya saya apa? Adakah topangan keuangan orangtua atau ada beasiswa? Jurusan apa yang saya minati, nantinya jika sekolah? Dalam hal tidak sekolah, saya mau kerja di bidang apa dan di mana? Lebih dalam lagi pertimbangan pribadi, keahlian apa yang saya miliki sekarang ini?

Hal-hal itulah sebagian kriteria sebelum memutuskan berangkat merantau. Bilamana kita lihat kriteria itu, jelas bisa dilihat bagaimana bedanya jika dilihat dari pendekatan waktu, dulu dan sekarang?

Jika masa waktu dahulu kala, pengalaman penulis, sekitar tahun 1974 lulus SMA II Negeri Padangsidempuan. Latar belakang informasi sungguh terbatas. Masih terhipnotis, dipengaruhi cerita indah. Bagamana jika melanjutkan sekolah ke IPB? Naik kapal laut betapa asyiknya. Tiba di ibukota Jakarta, serba wah. Saya akan melihat sendiri keindahan yang diceritakan oleh orang itu? Tanpa menguasai bidang pertanian itu sendiri. Pokoknya daftar dan berangkat. Itulah pengalamanku, latar belakang merantau. Informasi terbatas, transportasi juga terbaas, keuangan pastinya terbatas, pilihan jurusan juga terbatas. Waktu itu hanya ada dua favorit bagi kami, yaitu: melanjut ke AKABRI atau Institut Pertanian Bogor (IPB). Lainnya gelap. Kutinggalkanlah orangtua dan keluarga tercinta, dengan bekal apa adanya. Koper besi, sungguhan, bukan cerita-cerita bohong. Memang koper besi, menyertai saya berangkat Kapal Tokala, Belawan-Jakarta.

Bagaimana merantau jaman sekarang? Jauh sekali berbeda. Sekarang melalui sarana telekomunkiasi, teknologi, kemudahan akses lainnya. Terbukalah infomasi apa saja yang kita perlukan.

Murid bisa di SMA kampung halaman, tetapi pada saat yang bersamaan semua informasi dapat kita akses melalui komputer atau HP andoid masing-masing. Perguruan favorit, UI, IPB, Unair, Undip, atau sekolah lain sudah terintegrasi dalam penerimaan perguruan tinggi. Tinggal kelulusannya. Kita bisa diplot ke suatu perguruan tinggi yang diarahkan.

Mau bekerja pun sama saja. Kita bisa memilih bidang pekerjaan yang kita sukai. Jika gagal di satu tempat, bisa melamar lagi di tempat lain. Bahkan, kita bisa mengikuti sekolah khusus (vocasi) terlebih dahulu guna menyiapkan diri-sendiri memenuhi kriteria minimal sebuah perusahaan yang kita bidik. Gambaran gaji pun, bisa kita mintakan informasinya. Soal kita diterima atau tidak, itu soal lain. Yang mau disampaikan di sini adalah berbeda sekali, menghadapi rencana perantauan dahulu dan sekarang.

Kesempatan bekerja. Mungkin ini pembeda kedua. Dahulu, jaman 1970-an, lapangan pekerjaan itu terbuka lebar. Alias kita memiliki probabilitas untuk memilih pekerjaan sesuai minat dan bakat kita. Sekarang, kita cenderung sulit memilih. Kesempatan terbatas. Jadi kesempatan itulah yang membatasi kita untuk memiih. yang penting diterima dahulu. Bila bidang atau keahlian tidak/kurang pas maka bisa learning by doing, belajar sambil bekerja.

Komunikasi dulu dan sekarang. Sebuah jaman yang berbalik seratus delapan puluh derajat. Artinya, dahulu berkomunikasi dengan orangtua melalui sarana surat-menyurat, berlembar-lembar menuangkan perasaan rindu pada orangtua atau pacar. Selesai, baru tempelkan perangko biasa atau kilat. Tiba di kampung, 1 bulan lagi, sebab Kantor Pos di ibukota Kecamatan, masih bersambung lagi melalui titipan orang yang kebetulan pulang kampung. Nah, seru juga, menunggu surat tenggat waktu dua bulan. Sekarang?

Jangankan hitungan bulan, minggu atau hari. Sekarang hitungan detik sebab bisa bertelepon genggam, yang disebut handphone. Bisa SMS atau bahkan bisa Video Call. Betapa bahagianya generasi sekarang, bisa berkomunikasi dengan orang tercinta melalui sarana teknologi komunikasi canggih. Luar biasa, bedanya dengan jaman dahulu, tanpa telepon, harus bersurat ria.

Satu hal yang pasti, hubungan perantau dengan orangtua di kampung dan termasuk saudara-saudara lainnya, perlu dipelihara terus sebab mereka tetap menunggu kehadiran kita pulang kampung. Apakah pulang saat tertentu saja karena libur atau acara keluarga kangenan atau ziarah ke makan orang yang kita cintai? Ini penting. Jangan sampai kita menjadi perantau yang kualat, lupa kampung halaman. Kita lupa bahwa kita sukses karena didoakan oleh keluarga di kampung, tidak semata-mata karena sukses kemampuan pribadi kita.

Melalui kunjungan sendiri, keluarga atau marhube, marsipature hutana be, kita akan bisa membangun kampung halaman. Membangun relasi kebahagiaan maupun membangun pemikiran ke arah kemajuan serta membangun secara fisik, supaya kampung kita tidak ketingggalan dari kampung orang lain.

Itu doa saya dan anda juga.

Horas tondi madingin, pir tondi matogu. Marsada hita, songon siala sappagul, rap tuginjang rap tutoru. Songon suhat dirobean, saling tolong menolong. Semoga.

Penulis: Ronsen Pasaribu

BACA:  Warisan Harta Tetap Bagi Orang Batak

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *