Pulang ke Bonapasogit

Pulang ke Bonapasogit

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Nyekar, sebuah kegiatan rutin yang dirindu oleh siapa saja. Tak kecuali, saya sendiri, harus ke Sigolang. Tapanuli Selatan (Tapsel).

Biasanya yang tidak lazim kalau saya nyekar menggunakan moda angkutan umum pilihanku,  Taksi Moria, milik CV Moria Transport. Minibus atau disebut bus 3/4 ini, begitu gagah berani kulihat. Medan-Sipagimbar berangkat pukul 18.00 dan tiba pukul 06.00 pagi. Tentu potong istirahat di Balige dan di Pangaribuan.

Jika dibandingkan mengendarai mobil sendiri, rasanya lebih efektif dan efisien dengan moda ini. Selain tidak bisa tidur, juga mahal bensinnya dan tenaganya.

Saat ini, aku bangga sama Pak Jokowi. Mobilku dari bengkel lewat tol hanya butuh waktu 1 jam sudah tiba di Tebing.

Lari dengan kecepatan 100 km/jam, begitu perkiraanku kecepatan minibus ini. Orang Medan selalu bilang naik taksi dan jika melalui jalan tol, segalanya lebih cepat.

Malam ini bagian dari perjalananku. Seakan mengulang kembali masa.masa.mudaku dahulu. Perjalanan ini sebuah cita-cita juga.

Kubilang pada Arifin Pasaribu yang mendampingiku sejak pagi. Dia anggiku (adikku), malah lebih tepat anak angkatku karena sejak kecil saya yang sekolahkan dia sampai sarjana.

“Fin, ingat tidak waktu saya menjabat dahulu. Betapa sibuknya sehingga hampir tak ada waktu untuk menikmati urusan pribadi,” sahutku kepada Arifin. Saya lanjutkan lagi, “Suatu saat saya ingin bebas, tidak ada ikatan pekerjaan, ikatan agenda kantoran.”

Sekaranglah saatnya cita-cita itu tercapai. Bebas naik kendaraan umum. Kuingat dulu, waktu dinas, kami pakai mobil Landrover, gardan dua, edisi baru. Orang kampungku, mengelilingi mobil itu, decak kagum. Ada yang sok tahu. Abang ini kan keluaran baru, harganya 2 Milyar ya. Sang sopir senyum, beliau seorang Polisi, di pinggangnya ada pistol benaran. Aku senyum aja, karena dasar tidak tahu harganya dan juga bukan mobil sendiri, tetapi dipinjamkan pemilik perkebunan Sawit di Riau.

Jadi, berjalan duiu di kegelapan malam ini, diiringi musik lagi, terutama lagu-lagu Batak yang bagus-bagus. Inilah keasyikan pulang kampung itu.

Saya berderet duduk dengan seorang Koramil, orang Melayu, sudah 9 tahun di Kecamatan Aek Bila, daerahku.

Perjalanan satu malam penuh, memunculkan tanya, apakah ini latar belakang terjadi pemekaran itu? Sumut terbagi tiga atau empat.

Pertama, Provinsi Sumatra Bagian Utara/Tapsel, Madina, dll. Provinsi Danau Toba dan Provinsi Nias? Bisa ya karena pengendalian dari Medan sudah terlalu jauh.ke Tapus, Sigolang, atau Sipipangot?

Menarik, siapa tahu jawabannya nanti dapat saat saya mimpi saat tidur di atas berputarnya ban Moria andalan Bonapasogit kami?

Dinarasikan oleh: Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI)

BACA:  Pengalaman yang Tak Terlupakan Keliling Danau Toba

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *