RABAR: Sarito na Marimpola dohot Intermeso Sambing

RABAR: Sarito na Marimpola dohot Intermeso Sambing

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Buku Rabar (Sarito na Marimpola dohot Intermeso Sambing) berawal dari kegundahan hati saya akan makin berkurangnya penutur Bahasa Batak (lisan dan tulisan) di kalangan Suku Batak Toba (Batak Toba adalah Sub-Etnik Batak yang, terutama, berasal dari Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, dan Samosir, Provinsi Sumatera Utara).

Faktanya, walaupun Suku Batak, dalam percakapannya sehari-hari, menggunakan Bahasa Batak Toba, akan tetapi, sebenarnya, itu tidaklah benar-benar Bahasa Batak Toba. Lebih kurang 20-30% kata dalam bahasa lisan tersebut sudah disisipi kata-kata Bahasa Indonesia. Juga kecenderungannya, pengaruh bahasa Indonesia pada Bahasa Batak Toba dalam percakapan sehari-hari terus meningkat. Di pihak lain, sebagian masyarakat Batak Toba, terutama mereka yang tinggal di kota/perantauan, tidak lagi menggunakan Bahasa Batak Toba sebagai bahasa percakapan antarmasyarakat Batak Toba sehari-hari. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian anak-anak Suku Batak Toba yang tinggal di kampung Orang Batak Toba tidak lagi menggunakan Bahasa Batak dalam percakapan sehari-hari. Walaupun, orang tua berbicara dalam Bahasa Batak kepada anak-anaknya, anak-anaknya menjawabnya dengan Bahasa Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh tidak ada lagi buku pelajaran berbahasa Batak di sekolah-sekolah (Kalau dahulu, ketika saya masih bersekolah dasar, kami menggunakan buku pelajaran berbahasa Batak berjudul “Na Ringgas Manjaha–Yang Rajin Membaca”).

Saat ini saya menjadi anggota bagi beberapa grup facebook dan WA-group yang anggotanya semua orang Batak Toba. Kebanyakan grup tersebut beranggotakan pendeta atau penatua gereja. Sisanya adalah grup dari perkumpulan marga. Yang menarik, tetapi mengecewakan, sekitar 80% percakapan dalam grup tersebut menggunakan Bahasa Indonesia. Awalnya, saya berharap grup itulah menjadi salah satu media untuk memasyarakatkan kembali Bahasa Batak Toba itu, karena, seharusnya merekalah yang menjadi penutur Bahasa Batak Toba. Akan tetapi, itu tidak terjadi.

Berawal dari kekecewaan dan kekhawatiran itu, mulai Desember 2015, saya mencoba membarukan satus, menuliskan berita dan cerita dalam bahasa Batak Toba, lalu mengirimkannya ke semua grup tersebut. Walaupun sebagian besar respons terhadap berita dan tulisan tersebut berbahasa Indonesia, saya konsisten menulis, menjawab, atau menanggapinya dalam Bahasa Batak Toba. Sesekali ada pembaca yang berkata, “Sekali-sekali Bahasa Indonesia dong, Pak!” Akan tetapi, ada juga yang berkata: “Mauliate Pak, gabe tamba na binoto di Hata Batak i (Terima kasih, Pak, jadi bertambah pemahaman tentang Bahasa Batak (tulen) itu!”). Lama-kelamaan, minat anggota berbahasa Batak di grup itu meningkat, walaupun sangat kecil.

Hingga Agustus 2016, jumlah cerita berbahasa Batak yang saya kirimkan ke grup facebook dan WA itu telah mencapai 100 cerita. Sejak Juni 2016, beberapa orang pembaca menganjurkan agar cerita-cerita itu dibukukan. Akhirnya, November 2016 buku Rabar yang merupakan kumpulan cerita-amat-pendek yang saya kirimkan ke grup facebook dan WA diterbitkan oleh USU Press Medan.

Buku Rabar (Sarito na Marimpola dohot Intermeso Sambing) atau Rabar (Cerita Bernas dan Intermeso Saja) berisi 50 (Cerita Bernas) dan 50 (Intermeso Saja) berupa cerita-amat-pendek (masing-masing 2-4 halaman).

Sumber inspirasi cerita itu beranekaragam. Ada yang saya alami waktu kecil, remaja, atau dewasa. Ada yang dari omongan teman sebelah meja di kedai kopi. Ada lagi yang berasal dari permintaan pembaca sebagai respons atas cerita sebelumnya. Ada juga yang berasal dari lagu yang kebetulan saya dengar di radio ketika sedang terjebak kemacetan. Ada pula yang teringat begitu saja, lalu, langsung saya tuliskan. Oleh karena itu, tema ceritanya beragam, walaupun pada dasarnya ada inspirasi, motivasi, pesan moral, kebaikan, kritik sosial, etika hubungan antarmanusia, dan kearifan di dalamnya (Sarito na Marimpola). Juga, ceritanya diselang-selingi oleh cerita lucu (ringan), tetapi dengan pesan-pesan kebaikan, pada Intermeso Sambing.

Tempat mengirimnya ke facebook dan WA pun beragam. Ada yang dari rumah, mobil, kedai kopi, tempat parkir, rumah makan, pesta adat, kantin kampus, kafe, dan bank (lagi antre). Tempat pengirimannya pun demikian juga: dari Medan, Sei Rampah, Kisaran, Pematangsiantar, Bagan Batu, Duri, Siborongborong, Silaen, Balige, Panatapan Parapat, Penatapen Brastagi, Sitinjo Sidikalang, Dolok Masihul, Tarutung, Sipoholon, dan lain-lain. Semua cerita saya tuliskan di telepon genggam dan saya kirimkan melalui telepon genggam itu juga.

Mengenai judul buku, saya peroleh idenya dari Rabar. Rabar adalah Rujak Batak. Rabar diramu dari buah nangka kecil (yang tidak pernah menjadi nangka besar atau matang), daun pepaya, garam, dan cabe. Kadang-kadang, tambahannya boleh juga digunakan jambu biji. Campuran bahan-bahan tersebut digiling atau ditumbuk mendekati halus. Jadilah Rabar. Makan rabar disebut ‘mangarabar’.

Buah nangka kecil rasanya sepat sekali. Senada dengan itu, daun pepaya, seperti kita ketahui, rasanya pahit sekali. Akan tetapi, yang mengejutkan, ketika mereka dipadukan menjadi rabar, rasa sepat buah nangka kecil hilang. Demikian juga rasa pahit daun pepaya. Kalau komposisi bahannya pas, ‘berdamailah’ antarrasa–sepat, pahit, asin, dan pedas–menjadi perpaduan keempat rasa tersebut. Itulah Rabar, yang memang enak rasanya!
Buku ini saya sajikan bagaikan menyajikan Rabar kepada pembaca. Walaupun buku ini berisi aneka cerita, akan tetapi, saya berharap pembaca menikmatinya layaknya menikmati enaknya Rabar, Rujak Batak itu.

Beberapa judul cerita sengaja saya biarkan dalam bahasa lain, misalnya Inggris, Jerman, atau Latin, sekedar membuatnya menarik dan menunjukkan kepada pembaca bahwa Bahasa Batak punya padanan yang pas untuk bahasa lain. Untuk membekali pembaca, terutama untuk kata-kata yang sudah jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari, saya menyediakan kamus kecil di bagian belakang buku. Sebenarnya, banyak pembaca cerita saya di grup facebook dan WA itu yang menyarankan agar buku ini dituliskan dalam dwi-bahasa (setelah Bahasa Batak lalu dilanjutkan oleh Bahasa Indonesia di balik halamannya, untuk setiap judul), akan tetapi saya tidak bersetuju dengan saran itu, karena saya merasa khawatir pembaca justru akan membaca cerita berbahasa Indonesianya, bukan Bahasa Batak Tobanya).

Karena ceritanya beragam namun disajikan secara sederhana, kembali, saya berharap buku ini memberi pembaca sajian berasa pas, perpaduan antara topik, sumber ide, keseriusan, dan kelucuan (in harmony) menjadi sebuah pesan humanis, layaknya rasa Rabar itu. Dan, yang lebih penting lagi, melalui buku ini, saya berharap rasa cinta, bangga, dan kepedulian orang Batak Toba akan bahasanya tumbuh dan mengembang yang karenanya Bahasa Batak Toba tetap lestari di Bumi Pertiwi.

Saya sangat bersemangat dan bersukacita mengerjakan buku ini, sampai-sampai untuk urusan pengeditan, desain sampul, dan tataletak (kecuali format buku), saya kerjakan sendiri. Saya menyadari, buku ini memiliki kekurangan, baik dalam tatabahasa maupun pemilihan kata (diksi). Akan tetapi, saya, yang bukan berlatarbelakang pendidikan bahasa atau Sastra Batak, memberanikan diri menuliskannya. Kritik dan saran untuk perbaikan buku ini akan saya terima dengan senang hati. Siapa tahu ada kesempatan memperbaikinya pada cetakan berikutnya.

Catatan:
Saat ini sudah terbit Buku Rabar 1 dan Buku Rabar 2, yang masing berisikan 50 Sarito na Marimpola dan 50 Intermeso Sambing. Buku Rabar 3 sedang dalam proses editing.

Untuk pemesanan:
Albiner Siagian
HP/WA: 081263181367
atau
Redaksi BatakIndonesia.com

BACA:  Perihal Jabatan Akademik Profesor - Bagian 2

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *