Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian I)

Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian I)

Foto: Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang, SE., SP., MM dalam acara Horja Bolon DMAB-LABB, di Jakarta.

Kehadiran Raja Belanda, Willem Alexander, bersama istrinya Ratu Maxima Zorreguieta dan rombongan ke Kabupaten Toba, Tapanuli Utara, dan Samosir, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (12/03/2020) lalu, menjadi topik hangat di berbagai media lokal, Nasional maupun Inrternasional.

Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII

Kedatangan Raja dan Ratu Belanda itu tak luput juga dari pembicaraan masyarakat, dan tentu saja tidak bisa lepas dari zaman penjajahan Belanda selama 350 tahun di Nusantara. Padahal mungkin Raja Belanda yang sekarang inipun tidak tahu persis peristiwa penindasan waktu itu. Sehingga diapun belajar dari sejarah nenek-moyangnya, makanya sang Rajapun mengucapkan mohon maafnya ketika tiba di Yogyakarta, sebelum kunjungannya ke Tanah Batak.

Berbicara soal Belanda, terkait dengan benda pusaka Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII (SSM XII), Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang, SE., SP., MM, keturunan Si Raja Oloan (satu rumpun dengan Raja Sisingamangaraja Sinambela), yang juga Pendiri dan Rektor Universitas Timbul Nusantara–IBEK, mengatakan syukurlah barang pusaka Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII sudah kembali ke pangkuan Republik Indonesia, setelah lama tersimpan di Belanda.

Piso Gaja Dompak itu kini berada di Museum Nasional dengan Nomor Register 13425. Senjata pusaka itu dulu diketahui memiliki histori yang tidak bisa lepas dari sepak terjang keturunan Raja Sisingamangaraja dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda. Bernama gaja dompak lantaran bermakna ukiran berpenampang gajah pada tangkai bagian depan senjata itu. Senjata ini hanya digunakan dikalangan raja-raja saja. Mengingat senjata ini juga merupakan pusaka kerajaan, barang pusaka ini tidak diciptakan untuk membunuh atau melukai orang lain.

Benda pusaka ini dianggap memiliki kekuatan supranatural, yang akan memberikan kekuatan spiritual kepada pemiliknya. Senjata ini juga merupakan benda yang dikultuskan dan kepemilikan senjata ini adalah sebatas keturunan raja-raja, atau dengan kata lain senjata ini tidak dimiliki oleh orang-orang di luar kerajaan.

BACA:  PGI Himbau Umat Kristiani Tidak Panik Tanggapi Virus Corona
Lukisan Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Lukisan Raja Sisingamangaraja XII

Bicara lebih jauh soal Piso Gaja Dompak dan cerita lainnya pengalaman Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang, SE., SP., MM saat berkunjung ke Belanda, wartawan media online batakindonesia.com sempat melakukan wawancara medio Maret 2020, yang dilanjutkan dengan komunikasi berbalasan lewat WhatsApp, dan menuturkan berbagai kisah yang dia ketahui, yang kemudian merambah komunikasi dengan seorang tokoh dari DMAB (Dewan Mangaraja Adat Batak) LABB (Lokus Adat Budaya Batak), Ir. Nikolas S. Naibaho, MBA. Berikut himpunan petikannya.

Media: Horas Prof. Apa cerita tentang kedatangan Raja dan Ratu Belanda ini bagi bangso Batak, terutama kaitannya dengan kisah Piso Gaja Dompak yang katanya tersimpan lama di Belanda?

Prof. Dr. Laurence M: Syukurlah Piso Gajah Dompak milik Raja Sisingamaraja XII telah diserahkan kepada Republik Indonesia, dan disimpan di Museum Nasional dengan Nomor Registrasi 13425. Namun seyogiyanya penyerahan itu harus didukung oleh dokumen penyerahan oleh Belanda ke Indonesia. Sebab pada waktu saya pergi ke Leiden Belanda tahun 1976, saya sempat menanyakan tentang keberadaan Piso Gajah Dompak itu. Direktur museum itu yang bernama Dr Ave mengatakan, bahwa Gaja Dompak disimpan oleh museum khusus di Den Haag, dimana yang pegang kuasa museum itu, langsung Pangeran Benhard.

Semua barang bersejarah dari pahlawan Indonesia seperti pisau Pattimura, Pisau Monginsidi dan lain-lain, disimpan dalam museum istimewa tersebut. Yang disimpan di museum Leiden adalah ratusan Tunggal Panaluan sebagai contoh diberikan pada saya untuk dipegang dan diambil fotonya. Tunggal Panaluan itu adalah milik Raja Si Babiat Situmorang dan Guru Somalaing Pardede yang katanya paling banyak isinya. Ukuran yang paling banyak isi adalah paling banyak membunuh musuh. Juga saya ditunjukkan dua lemari setinggi saya, yang berisi pustaha (pustaka) Batak, yang ditulis oleh Raja Sisingamangaraja XI sebanyak 23 jilid yang rencananya menulis 24 jilid tapi keburu perang. Sehingga jilid ke-24 tidak sempat ditulis.

Disana juga ada Museum Batakologi di Leiden, dimana museum itu adalah milik swasta dan undang-undang swasta yang melindunginya. Sedang museum yang Den Haag itu adalah milik Pemerintah Belanda. Foto-foto yang saya ambil itu langsung saya kirim kepada Raja Na Patar Sinambela (cucu tertua Raja Sisingamangaraja XII, dengan alamat Jln, Sei Wampu 82, Medan dari Leiden. Agar cepat mereka dapat informasi itu. Karena saya harus melanjutkan perjalanan ke New York. Dan info ini adalah materi pendahuluan untuk Prof. Dr. Bonar Sijabat untuk mengadakan research mendalam ke Leiden, dan terus ke Jerman sebagai cikal bakal terbitnya buku Ahu Sisingamangaraja (Aku Sisingamangaraja).

BACA:  Kolang-kaling, Pembawa Rezeki Pada Ramadhan di Bonapasogit
Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara
Foto: Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara

Sementara suatu ketika, kita sebagai Panitia Pemugaran Istana Sisingamangaraja di Bakara, menugaskan Ketua I, Prof. Dr. Bonar Sijabat mengadakan riset atas dukungan sponsor media cetak Sinar Harapan, yang membiayai beliau ke Eropa dan ke Halmahera. Dan saya sebagai Ketua Panitia dan Bapak Arifin Harahap SH, Presiden Direktur Bank Pasifik, mencari dana dalam pembangunan itu. Saya menghubungi Direktur Purbakala R.I dan beliau menginformasikan dana itu ada. Tapi pembangunannya harus melalui tender. Maka saya hubungi Wakil Presiden RI, Adam Malik waktu itu, kalau boleh dana itu dapat dikucurkan dengan sistem penunjukan kepada Kolonel Bonardo Dairi Manullang, yang selanjutnya dicairkanlah melalui Kantor Purbakala Medan. Itulah historis pembangunan kembali Istana Raja Sisingamangaraja itu sekarang. Hanya catatan saja dan tidak bisa hilang walaupun tidak ada maksud melupakannya.

Media: Sepertinya ada cerita yang luput dari catatan sejarah ya Prof?

Prof. Dr. Laurence M: Adalah sikap orang Indonesia sering mengambil manfaat atas buah pikiran dan keringat orang lain, dengan menonjolkan diri pada proses perjalanan, apalagi digunakan untuk kepentingan pribadi. Dan kadang tega mengabaikan bahkan melupakan sejarah itu sendiri. Hanya TNI yang selalu apik mencatat sejarah. Seperti Sapta Marga prajurit Indonesia yang ditulis tangan oleh Jenderal TB Simatupang selalu itu dibacakan pada peringatan bersejarah TNI. Artinya tidak pernah itu dilupakan walaupun Simatupang sudah lama meninggalkan ketentaraan. Jadi di Indonesia baru TNI yang terpercaya memegang estetika itu dan dapat dipercaya yang perlu diteladani.

Media: Katanya Piso Gajah Dompak itu sakti, dan bisa melindungi serdadu, dan Raja Sisingamaraja juga bisa menghilang. Tapi kenapa beliau bisa tertembak peluru serdadu Belanda?

 

Prof. Dr. Laurence M: Raja Sisingamangaraja XII memang adalah sakti. Dan kesaktiannya itu melekat pada Piso Gajah Dompak beliau. Hanya saja ada pantangannya. Kalau dilanggar, kesaktiannyapun bisa hilang. Pantangannya adalah, Raja Sisingamangaraja tidak bisa memiliki dengki sama orang, dan marah. Apalagi membangkitkan rasa ingin untuk membunuh. Pada waktu anaknya Patuan Nagari tertembak dan gugur, beliau tidak marah. Juga tatkala anaknya Patuan Anggi gugur, beliau tidak emosi dan marah.

BACA:  Ketum FBBI Ronsen Pasaribu Jadi Saksi Ahli dalam Kasus Sengketa Tanah

Tapi tatkala mendengar borunya Lopian yang berumur 17 tahun  tertembak, maka amarah beliau mendidih dan ingin membunuh tentara Belanda yang sudah tak jauh darinya, tapi Belandanya tidak melihat dia. Dengan nada tinggi, beliau berteriak: “Ahu Sisingamangaraja” (Aku Sisingamangaraja). Maka kesaktiannyapun hilang, dan tentara Belanda yang berasal dari Halmahera yang bernama Hamisi menembaknya. Dan kenalah dadanya, dibawah jantungnya.

(bersambung ke Bagian II)

Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian II)

 

Editor: Danny PH Siagian, SE., MM

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *