Refleksi Lebaran: Mudik Iman

Refleksi Lebaran: Mudik Iman

BEKASI, BatakIndonesia.com — Saya ingin bercerita pengalaman sangat berharga ketika libur Lebaran. Tidak berlebihan bila saya menyimpulkannya sebagai kisah seminggu penuh makna.

Berawal dari rencana matang kami mantan Pemuda HKBP Setia Mekar berlibur ke Cisarua Puncak Bogor tanggal 3-5 Juni 2019. Sudah lebih dari 10 tahun kami membentuk paguyuban kecil secara rutin bertemu setiap bulan di rumah bergantian. Agenda lainnya setiap liburan Idul Fitri pasti kami pergi bermalam bersama atau liburan.

Meski sudah semakin dewasa anak-anak, tetap saja kami semua selalu antusias setiap musim liburan Lebaran. Momen liburan kali ini sekaligus perpisahan bagi salah satu keluarga yang akan pindah ke Sumatera Utara memulai bisnis baru.

Sungguh kali ini berbeda dan penuh kejutan, sebelum kami berkemas pulang dari puncak entah apa yang menyebabkan kami menyimpulkan liburan berlanjut dan perpisahan dengan sahabat kami hendak dirayakan lebih lagi. Sore itu kami sepakat semua kami ke Yogyakarta lanjut liburan.

Tentu inilah awal kami Mudik Iman. Ya, bepergian dengan Iman. Dengan perencanaan yang singkat dan membagi peran kami semua jeda sehari kembali ke rumah membereskan beberapa persiapan ke Yogya. Ada yang mencuci pakaian karena persediaan pakaian bersih sdh habis, ada yang kebingungan bagaimana burung peliharaannya akan kembali ditinggal, dan sebagainya.

Tepat jam 7 malam tanggal 6 Juni kami 6 mobil dengan 38 orang berangkat ke Yogya. Perjalanan pergi 13 jam kami tempuh. Pagi itu 7 Juni kami sarapan di Candi Borobudur. Wajah gembira tak terkira mengalahkan lelah perjalanan. Singkatnya kami menikmati perjalanan mulai dari kuliner Bakmi Jawa, gudeg, nasi pecel dll. Kami mengunjungi Candi Borobudur, Prambanan, jalan Malioboro, pasar Bringharjo, tebing Breksi, dll. Penginapan yang sederhana LPPS Samirono Baru melengkapi kebahagiaan kami.

Mudik iman ini baru saya mengerti ketika akan kembali ke Bekasi. Minggu siang setelah makan siang kami kembali ke Jakarta. 9 Juni jam 3 sore kami mulai berjalan pulang.

Macet panjang Yogya menuju Semarang harus menghentikan perjalanan keluarga kami saja, hal ini karena ada anak kami yang bungsu belum 8 bulan. Sementara teman-teman lain melanjutkan perjalanan pulang. 19 jam perjalanan teman-teman dari Yogya menuju Bekasi. Berbeda ketika berangkat 13 jam.

Kami sendiri total 20 jam perjalanan, sebelumnya Yogya menuju Semarang 6 jam dan esok harinya Semarang Bekasi 14 jam. Sangat terasa memang penuhnya masyarakat dengan arus balik.

Mudik iman semakin terasa karena teruji betapa kekuatan manusia sebenarnya sangat terbatas. Jalan tol yang kami lalui disesaki dengan jumlah kendaraan yang begitu banyak. Bahkan beberapa tempat peristirahatan harus ditutup karena sudah sangat sesak penuh. Namun saya cukup terkejut ketika seorang pedagang mie instan mengatakan bahwa kondisi saat ini belum seberapa ketika liburan tahun baru, wow saya spontan mengatakan.

Seluruh tol bisa menjadi rest area kali ini. Mulai dari Semarang sampai Bekasi banyak sekali mobil berhenti di bahu jalan untuk beristirahat. Demikian saya juga melakukannya.

Mudik iman bagi saya, sebagai perenungan bahwa perjalanan seperti demikian tiap tahun dijalani banyak orang dan saya baru pertama kali. Mudik dengan kekuatan manusia saja tidak cukup. Harus dengan iman yang sungguh-sungguh perjalanan mudik dilakukan. Puncaknya adalah ketika saya sudah sangat lelah di km 86. Saya bersyukur istri saya meminta untuk bergantian, wah ini rasanya berat sekali sudah jam 1 pagi. Dengan imanlah saya memberikan bagian 60 km bagi istri saya menyupiri kami sekeluarga. 2 jam yang sangat menentukan maka kami bisa terus berjalan. Setelah 2 jam bersitirahat maka dengan mudah saya menyelesaikan sisa perjalanan dan tiba di rumah tepat jam 3 subuh.

Dari seminggu perjalanan tersebut ternyata 2 jam ketika istri saya menyupiri kami yang sangat menentukan sekali. Di saat itulah iman ini semakin diperlengkapi Tuhan bahwa Penolong itu hadir tepat waktu dan hanya dengan membuang ego maka semakin sempurnalah cara Tuhan memelihara kami dalam perjalanan tiba di rumah dengan rasa syukur.

Terimakasih hasian (sayang), istriku!

Dituturkan oleh Frangky Tampubolon (Peace Train Creator)

BACA:  Revolusi Ala Corona

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *