Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Sering sudah kita mendengar dari pejabat pemerintah, ilmuan dan penulis lainnya kalimat Revolusi Industri 4.0. Revolusi ini menggambarkan generasi atau tahapan kemajuan teknologi. Saya mengutipkan bahan ceramah Pendeta Dr. Martin Lukito Sinaga pada Ibadah Syukur Senior Members/Friends GMKI,  pada Rabu (31/1/2019), pukul 18.00-21.00 WIB di Hotel Best Western Kemayoran, di mana saya hadir.

Berikut saya bagikan materinya kepada para pembaca yang budiman. Judulnya: “Dengan Hikmat Illahi, Kita Memasuki Tahun Baru 2019. Senior GMKI Membangun Bangsa dan Menyiapkan diri memasuki Revolusi 4.0.”

Dasar Alkitabnya diambil dari Amsal 1:20: “Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya.” Pesan hikmat dari Alkitab: Setelah Tuhan menciptakan dunia, juga menyelenggarakannya (Providentia Dei), maka bagi manusia yang hendak turut serta diberi-Nya kebebasan. Namun, karena kehidupan menjadi rumit, dan berbagai hal terjadi akibat kebebasan tadi, maka orang percaya pun berbagai “insight” seni hidup, dan inilah yang melahirkan tradisi HIKMAT (seperti kitab Amsal) dalam Alkitab. Takut akan Tuhan adalah Permulaan Pengetahuan. Pengetahuan dan hikmat tesebut adalah pemberian Tuhan. Ketahuilah dengan segala cara dan daya, pemberian-Nya tersebut yang nyaring berseru-seru di jalanan, juga di Revolusi 4.0.

Jalan REVOLUSI INDUSTRI 4.0, adalah bagian dan lanjutan jalan globalisasi. Tahap Pertama (1492) Columbus berlayar dan membuka perdagangan antara, apa yang disebutnya “dunia lama” dan “dunia baru”. Masa ini berlangsung sampai tahun 1800. Ini disebut GLOBALISASI 1.0.

Tahap Kedua, disebut Globalisasi 2.0, berlangsung dari tahun 1800 sampai tahun 2000. Masa yang ditandai oleh antara lain depresi besar dan Perang Dunia I dan II. Masa ini menyusutkan dunia dari ukuran sedang ke ukuran kecil. Ini ditandai dengan hadirnya perusahaan-perusahaan multinasional.

Tahap ketiga. Penyatuan global dibantu oleh perkembang teknologi dengan menyebarnya telegraf, telepon, satelit, serat optik, World Wide Web (www). Pasar global pun segera terwujud. Kekuasaan di balik globalisasi masa ini adalah terobosan di bidang perangkat keras, berawal dari kapal uap dan kereta api, hingga kemudian telepon dan komputer induk (Friedman dalam The World is Flat). Globlasisasi 3.0 menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil. Dunia sepertinya menjadi datar.

Tahap keempat. Kini kita menghadapi teknologi jaringan yang memasukkan kita di era 4.0 atau REVOLUSI 4.0 atau Internet of Think (IoT). Era IoT dan big data memungkinkan semua terhubung dengan cyber space atau jaringan siber. Tantangan terbesaar dari ruang secepat cahaya ini adalah dalam hal talenta atau sumber daya manusia yang mampu menanganni berbagai tantangan dalam kerja daring tersebut.

Di dunia ini terjadilah hal ini: 639.800 GB transfer data IP global terjadi di internet dalam satu menit. Sekitar 47.000 app downloads di internet terjadi tiap menit. Sekitar 2 juta pencarian google dalam satu menit, sekitar 1,3 juta penayangan video dan video di upload berlangsung tiap satu menit. 6 artikel Wikipedia baru diterbtkan setiap menit internet, serta 204 juta e-mail terkirim dalam durasi yang sama. Dalam rentang waktu satu menit intenet (60 detik), sekitar 1300 pengguna ponsel baru ditambahkan. Sekitar 135 injeksi botnet diidentifikasi dan 20 pengguna web baru menjadi korban pencurian identitas. Sekitar 277.000 user Facebook login dan sekitar 6 juta tampilan FB berlangsung dalam tiap menit. 100.000 tweet baru yang diposting di situs micro-bloging, dan sekitar 320 + acount tweeter baru diciptakan dalam satu menit. Terciptalah Big Data.

Menurut penemuan alat virtual terbesar FB semua itu dilakukan karena : I am trying to make the world a more open place, tulis Mark Zuckerberg. Open place itu sebenarnya seperti JALAN RAYA DIGITAL TAK TERBATAS. Namun ada hal lain yang muncul dalam bidang datar itu, di era digital cultures telah berubah secara radikal apa yang nyata dan apa yang semu. semakin sulit membedakan mana realitas dan mana yang merupakan hasil pencitraan. kita bahkan bisa terus-menerus mengonsumsi kebohongan, misalnya lewat cerita kosmetik dan kecantikan ala Kaukasian. Ini semacam Imagologi atau post Truth.

Dampak lain adalah tuntutan bagaimana orang lain atau diri sendiri mengidentifikasikan diri. Identitas seseoang semakin cair dan berubah-ubah, tetapi sekaligus sengit dan emosional.

Yang perlu kita sadari dan siapkan sebagai hikmat memasuki Revolusi 4.0: “Selalu ada “sang liyan/orang lain” di hadapan kita. Dari the others itu datang yang baru, yang memaanggil, yang mengundang, yang virtual & vital. SIAPKAN DIRI agar jangan sekadar jadi ‘HATER” ATAU ‘LOVER’, tetapi mampu membuka diri dan merespons secara khas. Ini akan menjadi JEJAK (identitas) DIGITALMU, KESAKSIANMU. Identitas kita kini adalah sosok yang terhubung, online dengan segala yang mungkin dari sesama kita dan respons kita. Belajar lagi di era Industri 4.0 (Riset The Economist). Belajar bernuansa baru, demi pendapatan, tetapi diperlukan kecakapan khas, tidak lagi jadi pandai atau serba tahu.

Dinarasikan kembali oleh: Dr Ronsen L. M. Pasaribu (Ketua Umum FBBI)

BACA:  Serial Kearifan Batak (3): Sisolisoli

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *