Selamat Melayani, Ephorus Dan Fungsionaris HKBP 2020-2024

Beberapa Pemikiran Bagi Pemulihan Pelayanan HKBP (Bag. I)

Oleh: Ev. Ronald L. Toruan, SE., MA., MTh (*)

OPINI

Seluruh warga HKBP bersyukur kepada Tuhan, mengucapkan ‘Selamat’ dan berterimakasih kepada panitia pelaksana dan semua pihak yang telah membantu, sehingga Sinode Godang ke-65 di Sipoholon dapat berjalan lancar dan sukses.  Sinode juga telah berhasil memilih Ephorus  dan Sekretaris Jendral HKBP yang baru, periode 2020-2024, yaitu Pdt. Dr. Robinson Butar-butar, MA dan Sekretaris Jendral Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.Th termasuk fungsionaris lainnya, para Kepala Departemen dan 32 Praeses.

Gereja juga bersyukur dan harus berterima kasih kepada Ephorus  dan Sekretaris Jendral HKBP yang sebelumnya, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing dan Pdt. David Farel Sibuea D.Min. Mereka telah tuntas melayani dan memimpin HKBP periode 2016-2020 sampai terlaksananya Sinode Godang ke-65 yang sempat tertunda  sejenak.

Sinode gereja, pergantian para pemimpin (regenerasi) adalah suatu hal yang  alamiah. Yang seharusnya disertai dengan evaluasi untuk meningkatkan semangat dan kualitas pelayanan ke depan, yang  semakin baik dan menuntut kecepatan yang semakin meningkat pula. Karena waktunya semakin terbatas.

Selamat Melayani, Ephorus Dan Fungsionaris HKBP 2020-2024
Foto: Pdt. Dr. Robinson Butar-butar, MA, Ephorus HKBP 2020-2024

Terpilihnya Ephorus, Pdt. Dr. Robinson Butar-butar dan Sekretaris Jenderal Pdt. Dr. Viktor Tinambunan dan para fungsionaris lainnya, menjadi harapan warga HKBP, agar mereka dapat memimpin gereja ini, sesuai dengan kehendak Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Berbagai harapan tersebut, diuraikan berikut ini.

1. HKBP Melaksanakan Mandat Kristus

Gereja-gereja di dalam dunia adalah  anggota Tubuh Kristus. Banyak anggota tetapi satu tubuh, namun masing-masing dipanggil untuk melaksanakan tugas yang sama yaitu membawa damai sejahtera (shalom) dengan memberitakan Kabar,  Keselamatan dari Tuhan  Yesus Kristus.

Pergantian estafet kepemimpinan gereja adalah satu hal yang alamiah. Tetapi yang sangat penting adalah, melanjutkan pelaksanaan mandat dari Tuhan Yesus. Dimana Dia sendiri mengatakannya, sebelum Dia naik ke surga: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20)

Inilah pesan Tuhan Yesus yang merangkum seluruh ajaranNya kepada murid-muridNya, sebelum Dia terangkat ke surga.  Dia telah naik ke surga, tetapi Dia juga telah berjanji, akan  tetap menyertai gereja sampai nanti Dia datang kembali dan meminta pertanggungjawaban atas tugas-tugas yang telah diberikanNya itu.

Setelah Dia mengajarkan segala sesuatu kepada murid-muridNya, Dia memerintahkan agar gereja (setiap orang percaya) yang menyambut panggilanNya, pergi  dan bekerja menjadikan semua bangsa menjadi muridNya dan mengajar mereka akan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan. Jadi gereja diberi tugas utama untuk memberitakan Kabar Baik, bahwa Tuhan Allah mengasihi orang berdosa, dan Yesus Kristus adalah jalan kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal.

Setelah Dia  mengajarkan segala FirmanNya, Dia menghendaki agar apa yang telah Dia ajarkan kepada murid-muridNya, diberitakan dan diajarkan kepada orang lain, kepada bangsa-bangsa. Namun bukan saja Dia memberikan tugas kepada gereja, tetapi Dia juga berjanji menyertai gereja di dalam dunia sampai akhir zaman. JanjiNya menjadi jaminan kepada setiap gereja yang melakukan tugasnya dengan setia, yaitu memberitakan Kabar Baik kepada  bangsa-bangsa dan mengajar.

Segala Firman telah diajarkanNya, dan gereja diperintahkanNya untuk menggembelakan domba-domba milikNya, dengan kasih, sebagaimana teladan yang telah ditunjukkanNya, bahkan dengan mengorbankan nyawaNya sendiri. Mengenai hal ini, Tuhan Yesus dengan prihatin mengingatkan, agar orang-orang yang telah diberi mandat itu, mau melakukan tugasnya dengan tulus, dan bertanggungjawab, bukan menjadi “seorang gembala upahan” (band. Yoh 10:11-12)

BACA:  Rumah Tempat Berlindung (Stay at Home)

Pada pasal 8 Tata Gereja HKBP 2002, telah mencantumkan kedua tugas utama tersebut dengan istilah, memberitakan dan menghayati serta menegaskan kembali, bahwa tugas gereja HKBP adalah menjawab Tritugas panggilan gereja. Sebagaimana tercantum pada pasal 9: Koinonia (persekutuan), Marturia (kesaksian) dan Diakonia (pelayanan).

Selamat Melayani, Ephorus Dan Fungsionaris HKBP 2020-2024
Foto: Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.Th, Sekjen HKBP 2020-2024

2. HKBP Gereja Yang Melayani

Para fungsionaris yang baru, adalah pilihan seluruh warga HKBP melalui Sinode Godang. Agar HKBP memiliki pemimpin yang mampu menggembalakan seluruh warga jemaat HKBP, untuk bersama-sama melayani di ladang Tuhan.

Karena itu, seluruh warga HKBP harus juga mendoakan dan mendukung sepenuhnya, agar para fungsionaris yang telah dipilih di Sinode Godang HKBP, dapat melaksanakan tugasnya menjadi pelayan yang “melayani dengan rendah hati”.

3. Melayani Dengan Rendah Hati

Kerendahan hati adalah kunci dari keberhasilan gereja dalam pelayanannya. Karena dengan kerelaan melayani, orang Kristen dapat bekerja dengan gembira dan bersemangat. Meski harus menghadapi tugas-tugas yang berat dan penuh tantangan pada hari-hari ke depan ini.

Para fungsionaris HKBP jangan hanya euphoria dan merasa puas karena sudah terpilih saja. Tetapi harus segera sadar, banyaknya tugas-tugas pelayanan yang berat yang sudah menunggu untuk segera dikerjakan. Diingatkan, bahwa gereja ini harus tetap menjadi gereja yang memberitakan Injil dan mengajarkan Firman Allah dengan benar. Agar setiap warga HKBP memuliakan Tuhan dan menjadi berkat buat Indonesia dan dunia.

Sebagai gereja besar yang dalam lebih 158 tahun ini masih menggunakan nama gereja Batak Protestan, maka jelas  HKBP memerlukan kepemimpinan yang kuat dan rendah hati. Bukan saja Ephorusnya. Tetapi juga sampai kepada tingkat jemaat,  dapat memahami bahwa “pemimpin adalah pelayan”, sebagaimana kata Tuhan Yesus, bahwa seorang pemimpin menjadi besar karena kerelaannya melayani sesamanya, di dalam kasih dan persahabatan. Bukan bergaya bos dengan anak buah. Memang demikianlah ajaran Alkitab. Ajaran yang sungsang atau melawan arus. Inilah tantangan bagi HKBP dalam menjalankan kepemimpinan dengan kerendahan hati.

4. Gereja Yang Menyambut

Telah disampaikan oleh Ephorus terpilih, dia akan memimpin gereja melaksanakan tugasnya sebagaimana digariskan oleh Renstra (Rencana Strategis) HKBP 2020-2024, antara lain: penataan dan pemberdayaan sistem kepersonaliaan HKBP agar menjadi tangguh, adil dan transparan, pemberdayaan, pemuridan dan pelatihan para pemimpin gereja dan warga jemaat termasuk mengembangkan partisipasi HKBP  dalam pembangunan, antara lain seperti lingkungan hidup dan wisata Danau Toba, di Tapanuli Utara.

Perlu diteladani, prinsip-prinsip yang pernah diterapkan Dr. I.L.Nommensen  yang membuahkan keberhasilan pelayanannya, di tanah Batak dulu. Dimana ia  mengundang segenap orang Batak, tanpa pilih-pilih, untuk  turut menikmati kebaikan Tuhan yang memancar dari gereja HKBP.

Segenap warga HKBP mengharapkan agar HKBP ke depan, mampu menunjukkan dan menyaksikan kepada setiap orang bahwa HKBP adalah gereja yang penuh kasih dan persahabatan. Karena melalui prinsip pelayanan yang dilandasi kasih dan persahabatan, tantangan pemulihan HKBP dapat dijawab dengan baik, teratur dan sistematis,  dalam periode jabatan pelayanan yang sangat singkat (empat tahun) itu.

Disamping itu pelayanan periode ini harus dapat berkesinambungan. Sehingga rencana strategis yang sudah ditetapkan pun, harus dapat disesuaikan dengan tantangan pelayanan yang terus berubah dari waktu ke waktu, dan harus segera dijawab. Tetapi diatas semuanya itu, jangan dilupakan, bahwa tugas utama gereja adalah menyelamatkan jiwa manusia dan menjadi berkat bagi dunia. Keduanya harus berjalan seimbang.

BACA:  Pancasila: Modal Bangsa Hadapi Tantangan

5. Kepemimpinan Yang Bersahabat

HKBP harus kembali menjadi gereja yang dulu dirindukan orang dan dimana dulu para pelayannya terkenal dengan kepemimpinan yang penuh kasih persahabatan, yang manjur mengajak banyak orang datang, untuk menikmati Kebaikan Tuhan dari HKBP, termasuk pelayanan pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Terkait kepemimpinan gereja, Pdt. Dr. Josia dari STT Jakarta, mengatakan dalam satu seminar, hendaknya  gereja-gereja  protestan dapat mengatasi, roh otoriter yang terjadi secara kolektif. Gereja protestan hendaknya dapat mempraktekkan imannya sesuai ajaran Yesus Kristus yang memperlakukan murid-muridnya bukan sebagai hamba, tetapi sebagai  sahabat (Yoh 15:15).  Sayangnya, gereja-gereja  mempraktekkannya  hanya sampai pada abad ke-3. Dan setelah itu, menjadi semakin hirarkhis, setelah Kristen menjadi agama negara, dimana unsur spiritualitas semakin kurang diperhatikan dan teologi semakin berbaur dengan politik kekuasaan. Sehingga gereja tidak lagi penuh dengan kasih dan persahabatan.

Karena itu setelah Sinode Godang ini,  kepemimpinan Ephorus dan Sekjen dan seluruh fungsionaris  HKBP periode 2020-2024 ini, segera akan diuji terlebih dahulu spiritualitasnya dalam wujud komitmen dan konsistensinya, menciptakan kekompakan dan keharmonisan sesama pelayan di HKBP.  Sebagai gereja, teologi sangat penting. Tetapi spiritualitas yang memelihara persahabatan yang sejati diantara sesama pelayan dan seluruh anggota jemaat, adalah sangat menentukan keberhasilan pelayanan HKBP ke depan. Untuk menjadikan HKBP sebagai gereja yang memahami bahwa dihadapan Tuhan, setiap warga jemaat memiliki status yang sama (priest of believer/imamat yang rajani).

Warga HKBP diajak untuk mengingat hal ini. Sehingga para pemimpin HKBP jangan sampai melupakan bahwa Tata Gereja (Aturan Peraturan) yang sekarang ini, harus disesuaikan. Supaya HKBP sebagai gereja Protestan, tidak menjadi gereja yang sangat hirarkis (Pendeta sentris). Tetapi sinodal yang tulus, mengikut-sertakan seluruh warga jemaat (gereja besar dan kecil)  dalam setiap keputusannya. Dalam  semangat persahabatan yang penuh kasih dan saling tolong menolong.  Hanya di dalam persekutuan gereja HKBP yang demikianlah, para pemimpin dan jemaat HKBP dapat melaksanakan pemberitaan Injil secara bersama-sama dengan baik, melaksanakan Tri Tugas Panggilannya (koinonia, marturia dan diakonia). Jika tidak, maka sama saja gereja ini dengan membangun rumah di atas pasir.

6. Memimpin Dengan Kelembutan

Pemimpin gereja yang rendah hati, hendaknya memimpin gereja dengan kelembutan, dengan baik hati dan tidak mementingkan diri sendiri. Bahkan Alkitab mengajarkan supaya kebaikan hati itu diketahui dan menjadi bukti bagi banyak orang (band Filipi 4: 5). Rasul Paulus adalah pemimpin yang begitu lembut bagaikan seorang ibu yang merawat anak-anaknya yang masih kecil.

Seorang pendeta gereja Protestan di abad 18, “Jonathan Edwards” mengatakan, bahwa kelemah-lembutan adalah “Roh Kristiani”. Itulah buah Roh. Menurutnya, “Semua orang yang benar-benar saleh dan menjadi murid Kristus yang sejati, mereka akan memiliki roh yang lembut di dalam diri mereka.”  Ompu I Dr. IL. Nommensen sendiri juga adalah contoh, seorang yang lemah lembut tetapi kuat dan tegas.

Bersikap rendah hati (serep marhobas) hanya dapat dilakukan oleh mereka yang meneladani Kristus yang penuh kelemah-lembutan. Tetapi lemah lembut bukan berarti kepemimpinan yang “lemah”. Melainkan penuh cinta kasih  yang benar-benar terkendali.

Orang yang lembut akan mengatakan seluruh kebenaran. Bahkan setiap kebenaran yang berat dan sulit untuk didengar, tetap akan ditegakkan dengan cara yang benar dan penuh kasih pula. Alkitab menyebutkan, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”.

BACA:  Edy Ramayadi Sambut Pengungsi Asal Sumut dari Konflik Sosial Wamena

Para pemimpin HKBP jangan menjadi orang yang kasar atau mudah terbakar persoalan. Kebenaran harus disampaikan dengan  kelembutan dan memancarkan kasih Kristus. Akan tetapi, disiplin dan siasat bahkan sangsi yang tegas, harus ditegakkan secara konsisten berdasarkan aturan gereja yang berlaku. Hal ini penting dicamkan mengingat banyaknya masala-masalah operasional HKBP terkait dengan tenaga pelayan dalam beberapa tahun terakhir ini.  Keputusan gereja di segala bidang yang telah diambil pada waktu yang lalu harus dijalankan dengan benar dan konsisten agar kesinambungan pelayanan tidak menjadi kacau.

7. Optimis Karena Berpengharapan

Modal utama dari kepemimpinan yang baik adalah dimilikinya sikap positif dan optimis. Kerendahan hati para pemimpin yang disertai optimisme yang benar, akan memberikan kekuatan luar biasa dalam mentransformasikan kembali HKBP. Sebaliknya, terlalu bersandar kepada kepandaian berorganisasi, akan merugikan pelayanan. Karena pengelolaan urusan dunia, berbeda dengan organisasi gerejawi yang menuntut tindakan iman. Itu sebabnya, melakukan pelayanan gerejawi dengan cara-cara duniawi akan mendatangkan kekecewaan belaka.

Harus dipahami, bahwa pelayanan kegerejaan pada dasarnya adalah pelayanan sukarela, yang mempersembahkan diri, dan bukan untuk mencari keuntungan. Sebab itu, tanpa pengharapan didalam Tuhan, tidak mungkin para pelayan gereja dapat melayani dengan semangat yang penuh. Memang, istilah Alkitab “berpengharapan” adalah lebih tepat daripada “optimisme”. Didalam Roma 5:5 disebutkan bahwa, “pengharapan tidak mengecewakan” atau “pengharapan seharusnya tidak dapat dikalahkan oleh pergumulan yang sekarang dihadapi HKBP”.  Maka, dengan kepemimpinan yang baru ini, gereja akan dapat memberikan yang terbaik, hanya apabila memiliki sikap yang optimis karena berpengharapan kepada Tuhan.

Begitu banyak berkat dan pengalaman berharga yang dimiliki HKBP pada waktu yang lampau sehingga HKBP berhasil melewati berbagai pergumulan. Semua itu seharusnya menjadi bekal dan meyakinkan setiap fungsionaris HKBP. Bahwa Tuhan akan terus menolong dan  memberikan semangat, untuk selalu lebih berfokus kepada segala yang baik daripada yang negatif. Terutama menghadapi beratnya tantangan pemulihan HKBP, ditengah pergumulan pandemi dan melemahnya perekonomian warga.

Teologi dan pengalaman organisasi memang penting. Tetapi jauh lebih penting dari semua itu, para pemimpinnya memelihara spiritualitas yang baik, karena mengandalkan Tuhan, seperti waktu Daud menghadapi Goliat, hanya memakai ali-ali. Hal ini penting diperhatikan, menghadapi tantangan pelayanan yang berat. Dimana moralitas dan politik dunia, terus  berubah dengan sangat cepat dan menggoda para pemimpin gereja untuk berkompromi dengan dunia.

Tantangan pelayanan yang berat, hanya dapat dihadapi dengan benar, bukan dengan cara berkompromi dengan cara-cara organisasi sekuler. Tetapi dengan pujian syukur dan doa. Agar gereja tetap berpengharapan dan optimis, karena tahu bahwa Tuhan dapat membalikkan satu situasi yang kacau menjadi situasi yang baik dan indah, karena Tuhan bekerja disana. Selamat melayani !  Solideo Gloria! (Depok, 12 Desember 2020)

* Penulis adalah Ekonom (Berkarir di Bank Indonesia)/ Evangelis HKBP di Depok

Editor: Danny S

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *