Yang Amat Terpelajar

Yang Amat Terpelajar

BatakIndonesia.com — Lebih dari sepuluh tahun lalu, saya menghadiri ujian promosi doktoral di Universitas Indonesia. Setelah ujian selesai dan promovendus dinyatakan lulus, ketua sidang promosi mendaulat doktor baru itu untuk mengucapkan sepatah dua patah kata terkait dengan ujian itu, dengan berkata: “Saya mengundang Yang Amat Terpelajar, Doktor Anu untuk menyampaikan sambutan singkat.” Sebelumnya, pada saat ujian, setiap menjawab pertanyaan promotor dan co-promotor yang berjabatan (bukan bergelar) gurubesar (professor), promovendus selalu mengawali jawabannya dengan “Yang Amat Sangat Terpelajar, Prof Anu…!”

“Wah, betapa tinggi dan agungnya derajat orang terpelajar itu, rupanya!”, bisik saya di dalam hati.

Berbeda dari Indonesia yang manganut gelar Dr (bukan DR) bagi lulusan program doktoral, negeri jiran, Malaysia, menganugerahi gelar doctor of philosophy (PhD), untuk lulusan program doktoralnya, doktor bidang apapun itu. Keduanya sama saja. Itu bukan selalu berarti seseorang yang dianugerahi gelar PhD adalah doktor filsafat. Akan tetapi, mengapa setiap lulusan program doktotal mereka sebut PhD? Barangkali, jawabnya terkait pada ciri hakiki filsafati yang harus dipunyai seorang doktor itu.

Apa rupanya ciri hakiki filsafati itu? Jawabnya adalah berpikir radikal, mencari asas, memburu kebenaran, mencari kejelasan, dan berpikir rasional.

Dalam proses belajar untuk meraih gelar doktor, ciri atau sifat fisafati itu harus mengejawantah pada diri seorang mahasiswa doktoral. Keseluruhan proses yang dilaluinya harus beralaskan pada ciri atau sifat itu. Semua tindak-tanduknya harus mengespresikannya, termasuk ketika dia sudah menyandang gelar doktor itu. Rangkuman dari ciri filsafati itu adalah arif dan bijaksana, sesuai dengan arti kata ‘philos’ (cinta, kekasih) dan ‘sophia’ (kebijaksanaan atau pengetahuan), pembentuk kata philosophia (Greek) itu.

Oleh karena itu, kalau ada seorang doktor menyatakan dengan gegabah bahwa seseorang wanita yang berenang di kolam renang bisa hamil karenanya, itu bukanlah sikap arif dan bijaksana seorang ‘Yang Amat Terpelajar’. Itu sama sekali bukan ciri filsafati.

Begitu!

Penulis: Albiner Siagian (Sahalak parhalado di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dohot Revolusi Mental na marbisoloit)

BACA:  Parsorion ni Mangga Parapat

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *