Yesus Menolak Disentuh Perempuan?

Yesus Menolak Disentuh Perempuan?

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Tomas si murid lelaki dibolehkan menyentuh dan memegang Yesus, tetapi Maria Magdalena yang perempuan tidak boleh (Yoh. 20:11-29). Alasan dari Yesus: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa …”. Jadi, bukan perihal adab atau etika yang menjadi alasannya. Kalau begitu alasan yang sama seharusnya berlaku juga untuk Tomas yang laki-laki. Mengapa Yesus yang baru bangkit dari kubur itu tampak “diskriminatif” terhadap perempuan?

Upaya menyelamatkan Yesus dari kejanggalan itu telah dilakukan oleh J.H. Bernard tahun 1928. Dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan variasi teks dalam manuskrip kuno, Bernard mengusulkan bahwa sebenarnya yang diucapkan oleh Yesus bukanlah “Janganlah engkau memegang” (Yunani, “me aptou“), tetapi “Janganlah engkau takut” (Yun. “me ptoou“). Jadi, barangkali kesalahan dalam menyalin manuskrip kuno. Usulan Bernard kurang diterima luas.

Penjelasan lain yang lebih banyak diterima adalah dari R. Schnakenburg tahun 1982. Schnakenburg mengingatkan, ketika tindakan menyentuh/memegang telah dimulai, maka bentuk ‘negative present imperative‘ pada “Janganlah memegang”, bisa berkonotasi: “Do not hold on to me any longer, let me go!“. LAI-Kartidaya mengusulkan beberapa alternatif makna atau terjemahan seperti: “Berhentilah memegang/menahan Aku”, “Berhentilah berpegangan pada-Ku”, atau “Janganlah terus menerus memegang Aku”. Jadi, Yesus bukan tidak mau dipegang oleh perempuan, tetapi maksudnya jangan terlalu lama memegang, menahan, atau merangkul.

Lantas, masalahnya ada pada alasan dari Yesus: “… sebab Aku belum pergi kepada Bapa”. Apa hubungan logisnya dengan “Janganlah engkau memegang Aku …”? LAI-Kartidaya mengakui bahwa sulit memahami alasan dari Yesus itu. Catatannya:

“Sulit untuk menafsirkan kata-kata ‘sebab Aku belum pergi kepada Bapa’. Kata-kata ini seperti menyiratkan bahwa orang dapat menyentuh Yesus setelah Kenaikan-Nya, tetapi tidak sebelumnya. Hal itu mungkin kebalikan daripada apa yang orang perkirakan.” (LAI-Kartidaya 2014).

NIVSB memberikan dua pilihan makna terhadap alasan dari Yesus itu:
The meaning appears to be that the ascension was still some time off. Mary would have opportunity to see Jesus again, so she need not cling to him. Alternatively, Jesus may be reminding Mary that after his crucifixion she cannot have him with her except through the Holy Spirit (see John 16:5-16)“. (NIVSB 1985).

Alternatif pertama dari NIVSB kelihatannya paling wajar, tetapi boleh jadi Yesus mengungkapkan alasannya tidak secara kaku & dingin. Perhatikan, hanya dengan dipanggil sebagai “Maria”, maka Maria Magdalena segera mengenali Yesus, padahal tadinya Yesus disangkanya penjaga taman alias tukang kebun. Yesus tampaknya memakai intonasi suara, mimik, gerak-gerik, atau bentuk keakraban lain yang mudah dikenali, sama seperti waktu Yesus belum mati disalib.

Ucapan Yesus kepada Maria Magdalena: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, …”, sebaiknya dilihat sebagai penuturan bergaya santai, penuh keakraban, bahkan mungkin canda. Barangkali, ujaran Yesus itu dalam percakapan bebas terdengar sebagai: “Jangan lama-lama dong merangkulnya, aku kan nggak buru-buru balik ke bapakku”.

 

BACA:  Pdt Robinson Butarbutar Bicara Kebosanan di Rumah

Kepustakaan:

  • Peter Cotterell & Max Turner, Linguistics & Biblical Interpretation (InterVarsity Press, 1989).
    Fatimah Djajasudarma, Semantik (Penerbit Eresco, 1993).
  • F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida (Penerbit Kanisius, 2015).
  • Herudjati Purwoko, Discourse Analysis (Penerbit Indeks, 2008).
  • Fritz Rienecker & Cleon Rogers, A Linguistic Key to the Greek New Testament (Zondervan, 1980).
  • Pedoman Penafsiran Alkitab: Injil Yohanes (Lembaga Alkitab Indonesia-Yayasan Kartidaya, 2014).
  • The NIV Study Bible (Zondervan, 1985).
  • The NIV Exhaustive Concordance (Zondervan, 1990).
  • The NRSV-NIV Parallel New Testament in Greek & English (Zondervan, 1990).

(Sumber: Sastra dan Sejarah Asia Barat Kuno, Facebook)

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *